Arsip Tag: Participatory Action and Research

Participatory Rural Appraisal – apa dan mengapa

Standar

Apa yang dimaksud dengan Participatory Rural Appraisal dan bagaimana perkembangannya dapat dilihat dari perubahan namanya.

  • RRA = Rapid Rural Appraisal, pertengahan tahun 1970.
  • PRA = Participatory Rural Appraisal,  akhir 1980an/awal 1990an.
  • PLA = Participatory Learning and Action, pertengahan tahun 1990an (tahun 1995).

Riset PembangunanRRA berkembang di kalangan universitas dengan tujuan untuk penelitian dan karakteristik penggalian data (ekstraktif). Ketika berkembang di kalangan praktisi pembangunan dengan tujuan dan filosofi berbeda, nama pun dibedakan menjadi PRA. Namun setelah terlanjur populer dengan nama PRA, barulah dirasakan adanya masalah dengan nama tersebut karena PRA tidak hanya diterapkan untuk perdesaan dan juga bukan hanya bermaksud sebagai metodologi pengkajian. Kemudian munculah nama PLA.

Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Participatory Learning and Action (PLA) secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah metodologi pendekatan program pengembangan masyarakat. Metode ini menyediakan alat/teknik yang bisa digunakan  masyarakat dampingan untuk melakukan pengkajian keadaan dirinya, menganalisis dan kemudian merencanakan tindakan.  Juga untuk bisa melakukan penilaian terhadap pencapaian hasil atau tujuan kegiatan-kegiatannya.

Nama PLA dianggap lebih cocok untuk menggantikan PRA.

***

Apa perbedaan antara RRA untuk penelitian akademis dengan PRA/PLA untuk metodologi pendekatan program?

RRA

  • Ekstraktif (menggali data/informasi)
  • Informasi untuk OL
  • OD sebagai responden atau obyek
  • OL sebagai peneliti
  • Pengguna utama: Universitas, donor

PRA/PLA

  • Pemberdayaan dan transformasi sosial
  • Informasi untuk OD
  • OD = petani/masyarakat sebagai pelaku “penelitian” untuk menyusun tindakan
  • OL sebagai fasilitator/katalisator
  • Pengguna utama: Ornop/LSM

***

Apa sebabnya PRA berkembang terkait dengan sebuah proses panjang pemikiran dan kritik terhadap penelitian akademis yang dianggap hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek dan tidak emmperoleh manfaat langsung. Participatory Action Research (PAR) merupakan salah satu perkembangan yang muncul untuk menjawab kritik ini.

PRA yang berkembang kemudian mengalahkan popularitas PAR. Sedangkan para pengguna PAR, menganggap PRA dan PAR memiliki perbedaan. Bahkan dalam sebuah pertemuan di Bandung pada tahun 2001 untuk mendiskusikan pengalaman para praktisi PRA dan PAR, muncul pernyataan dari penganut PAR bahwa PRA itu adalah PAR tanpa ideologi. PRA itu sangat instrumentalis dan tak beda dengan mobilisasi masyarakat untuk terlibat program.

Tentu saja pendapat itu ditolak para praktisi PRA.

***

Mengapa PRA menjadi populer di kalangan praktisi pembangunan dan kemudian popularitasnya mengalahkan PAR?

Generasi sekarang mungkin agak sulit menghayati suasana Orde Baru.

Pada tahun 1990-an ke belakang, kata “partisipasi” masih sesuatu yang “haram” di Indonesia. Berbahaya. Patut dicurigai.

Bisa jadi inilah yang menyebabkan PRA sebagai emtodologi pendekatan program menjadi lebih populer. Partisipasi yang digunakan PRA menjadi instrumentalis diyakini karena situasi di era Orde Baru yang masih represif terhadap suara yang kritis.

Sedangkan PAR menjadi kalah populer karena mempertahankan partisipasi yang lebih ideologis atau menggugat struktur penindasan.

***

Pada tahun 2003, saya sempat membuat catatan-catatan di saat menuliskan laporan evaluasi dampak pengintegrasian PRA sebagai metodologi program pengembangan masyarakat. Catatan-catatan ini dimaksudkan untuk memahami pada awalnya PRA dimaksudkan untuk apa dan mengapa.

Kalau PRA dikatakan berbeda dengan RRA dan PAR yang menjadi pendahulunya, maka perbedaan mendasarnya apa. Lalu bagaimana penerapannya sebagai metodologi pengembangan masyarakat (comdev) karena adopsi seperti inilah yang paling populer.

Catatan-catatan berikut ini silakan dibaca bila tertarik.

1-PRA apa dan mengapa (catatan 2003)

2-PRA pokok pemikiran Robert Chambers (catatan 2003)

3-PRA perbandingan dengan RRA & PAR (catatan 2003)

4-PRA kerangka kerja dalam comdev (catatan 2003)

5-PRA prinsip-prinsip dalam Comdev (catatan 2003)

***

Pasca reformasi (pasca tahun 2000-an), saya jarang melakukan dan menerima permintaan pelatihan PRA karena Pokja PRA di jaringan sudah selesai kegiatannya.  Mungkin pelatih dan fasilitator PRA sudah banyak sekarang sehingga permintaan pelatihan pun berkurang meskipun masih ada. Materi PRA merupakan bagian dari pelatihan fasilitator musrenbang desa, bukan pelatihan yang berdiri sendiri.

Teknik-teknik PRA memang masih dipakai secara luas di Indonesia karena digunakan dalam pra-musrenbang. Lihat tulisan sebelumnya: Participatory Rural Appraisal di Permendagri 66

Seperti yang saya sampaikan di tulisan-tulisan tentang program pengembangan masyarakat (comdev), dukungan lembaga donor kepada LSM sudah beralih ke program penguatan tata pemerintahan lokal. Ini –saya duga- menyebabkan menurunnya penyebaran PRA. Maksudnya, sampai sekarang memang PRA masih tetap diterapkan oleh lembaga program, namun tidak terdengar seramai tahun 1990 sampai 2000an.

***

Beberapa permintaan pelatihan PRA muncul lagi tahun 2012  ini. Ada yang dari kalangan peneliti.  Dan ada permintaan pelatihan PRA untuk program pengembangan masyarakat yang dikerjakan mahasiswa dan sebagai program CSR perusahaan.

Ketika ada permintaan untuk memberikan pelatihan PRA, saya membuat materi paparan ini.

PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL-pengenalan (2012)

***

Pertemuan kelompok

Sumber: Kuilu/SDM