Alternatif Penjelasan Konflik Kekerasan di Indonesia

Standar

Tulisan ini diupload di http://www.politikana.com: tulisan-2-alternatif-penjelasan-tentang-konflik-di-indonesia.html

***

Membaca buku “Perang Kota Kecil; Kekerasan Komunal dan Demokratisasi di Indonesia”,  saya diajak memahami konflik kekerasan secara utuh. Bukan hanya Konflik Sampit (Kalimantan Tengah) secara berdiri sendiri. Bukan juga hanya Konflik Ambon (Maluku). Buku yang ditulis sebagai hasil studi Gerry van Klinken ini memaparkan semua daerah yang mengalami konflik komunal dalah sebuah fase menjelang/setelah reformasi 1998. Peristiwa  yang tiba-tiba mengguncang hati kita dengan adanya korban massal dari konflik kekerasan  di beberapa daerah di luar Jawa.

Sebelumnya, saya membaca buku tentang satu daerah saja dari seorang penulis. Dan buku tentang daerah konflik lain dari penulis lainnya.

***

Pada Bab Pendahuluan penulis menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dalam bukunya adalah konflik kekerasan komunal dengan korban jiwa massal. Bukan konflik separatisme (Timor Timur, Aceh, Papua). Juga bukan kekerasan sosial yang bersifat semi kriminal seperti banyak terjadi di Jakarta atau Jawa (termasuk gerakan Anti Cina di beberapa tempat menjelang turunnya Soeharto).

Jadi yang masuk ke dalam buku ini adalah 5 daerah yang mengalami kekerasan komunal. Konflik Sambas (Kalimantan Barat) terjadi pertama kali Januari-Feb 1997 dan meledak lagi bersamaan dengan konflik di Ambon (Maluku), Poso (Sulawesi tengah) dan Sampit (Kalimantan Tengah) pada tahun 1999, Maluku Utara pada akhir 1998/awal 1999. Konflik ini berlangsung bertahun-tahun dan sampai sekarang masih menyisakan ketegangan.

Pertanyaan KENAPA SEKARANG (saat itu) terjadinya konflik yang melukai hati seluruh bangsa Indonesia itu –bukan hanya di daerah konflik- dibahas di Bab kedua.

Penulis buku ini menyampaikan KAPAN terjadinya konflik di 5 daerah ini adalah saat kekosongan kekuasaan pusat yang berujung pada reformasi yang mengubah konstelasi politik lokal. Ada sentimen anti orang luar untuk kepemimpinan lokal dengan isu “putra daerah”, tapi itu kan terjadi di seluruh Indonesia.

Sedangkan pertanyaan MENGAPA DI SINI (5 daerah tersebut) yang mengalami konflik komunal dengan pelaku massal dan korban massal pula, dibahas di Bab ketiga.

Penulis memaparkan bahwa 5 daerah yang menjadi TEMPAT terjadinya konflik  dimulai di kota-kotanya dan semua di luar Pulau Jawa di Propinsi yang berusia tua dan merupakan daerah-daerah yang perubahan dari wilayah agraris ke non-agraris paling cepat di Indonesia. Peluang-peluang yang terjadi dengan melemahnya pusat (waktu itu) dan dibukanya keran otonomi daerah dan desentralisasi yang mengawali demokratisasi lokal menyebabkan kompetisi kekuasaan yang dinamis yang membuat konflik merebak (eskalatif).

Benarkah konflik terjadi antar etnis dan agama? Penulis menyampaikan data dan fakta bahwa di 5 daerah itu pengelompokkan etnis dan agama seimbang. Sedangkan di daerah-daerah lain yang memiliki struktur mayoritas-minoritas, tidak terjadi konflik.

Benarkan konflik terjadi karena sakit hati dan kecemburuan sosial/ekonomi terhadap pendatang dari luar yang agresif berdagang yang didorong oleh situasi krisis ekonomi (imperialisme Jawa)? Prosentase pendatang dari luar di 5 daerah ini hanya di bawah 5 persen. Sedangkan di daerah-daerah lain yang dibanjiri pendatang sampai 20 – 30% tidak terjadi konflik kekerasan seperti itu. Sedangkan krisis ekonomi bisa berdampak menguntungkan bagi daerah berbasis perkebunan seperti di luar Jawa.

Bab-bab selanjutnya memaparkan masing-masing konflik per daerah.

Bab terakhir memberikan catatan refleksi dan kesimpulan penelitian/penulis.

***

Silakan saja membaca bukunya. Supaya kita bisa lebih memahami mengapa Bangsa kita bisa tiba-tiba berwajah sebiadab itu. Padahal manusia Indonesia itu penuh humor dan keramahan. Juga supaya kita bisa mengurangi keresahan apakah konflik serupa itu bisa/akan terjadi di masa depan.

Sayang buku ini merupakan tulisan hasil studi. Sangat bagus bila ditulis dengan bahasa lebih populer untuk konsumsi masyarakat biasa.

Salam Damai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s