Stereotype Konflik Kekerasan di Indonesia

Standar

Tulisan ini diupload di http://www.politikana.com: tulisan-1-stereotype-konflik-di-indonesia.html

***

Ada satu babak sejarah di Indonesia yang sulit dimengerti warga negara biasa seperti saya, yaitu terjadinya konflik kekerasan di beberapa daerah yang memakan korban massal di penghujung Orde Baru dan awal reformasi serta berjalan bertahun-tahun bahkan sampai 10 tahun masih menyisakan ketegangan. Tahun 2011 ini muncul lagi berita mencemaskan dari Maluku.

Konflik Sambas (Kalimantan Barat) terjadi pertama kali Januari-Feb 1997 dan meledak lagi bersamaan dengan konflik di Ambon (Maluku), Poso (Sulawesi tengah) dan Sampit (Kalimantan Tengah) pada tahun 1999, Maluku Utara pada akhir 1998/awal 1999.

Kenapa terjadi????? Kok, bisa?????

Itu adalah reaksi spontan saya terhadap  berita konflik tersebut saat masih berlangsung. Mungkin rekasi banyak orang Indonesia.

Sebagai warga negara yang sejak kecil mengucapkan kata “Satu Nusa, Satu bangsa, dan Satu Bahasa Kita” rasanya menjadi tak percaya bahwa hal demikian bisa terjadi.

***

Orang-orang yang berada  di wilayah konflik dan terpaksa terlibat juga tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi sampai sekarang.  Seperti percakapan pada bulan Oktober 2011 berikut ini.

Ali, sarjana lulusan Makasar yang merupakan “orang kota” di Kabupaten Poso, dalam obrolan dengan saya mengatakan: “Saya tidak mengerti kebiadaban itu….”

Pun demikian juga dengan Buja, orang Poso yang merupakan warga Tentena (basis Kristen) saat saya berkunjung ke rumahnya, mengatakan: “Saudari saya masuk Islam dan itu terserah dia….”

Sedangkan Solehudin yang tinggal di Kota Palu (ibukota Kalteng) bercerita bahwa keluarga dekatnya yang tinggal di Poso terdiri dari Kristen dan Islam tiba-tiba berada dalam situasi sebagai lawan. Padahal merupakan keluarga yang hubungannya erat.

Saya bukan peneliti. Jadi,  obrolan di atas hanyalah obrolan minum kopi. Rupanya, tidak diminta pun hasrat untuk menumpahkan unek-unek dengan menceritakan pengalaman traumatis itu masih ada. Bahkan saat naik bis antara Kota Palu-Poso, si sopir terus saja bercerita sama saya yang duduk di di sebalahnya, tentang konflik tersebut. Tanpa ditanya.

***

Bagaimana kita tahu apa yang terjadi?

Saya membeli beberapa buku hasil studi atau pengalaman pendampingan masyarakat di daerah konflik dan membaca di media internet (koran online dan web  milik organisasi/personal) tentang konflik-konflik tersebut.  Setiap tulisan memberikan teori dan sudut pandang berbeda yang membingungkan buat pembaca awam seperti saya.  Apalagi penulisan di media internet karena jelas-jelas ada web yang diterbitkan khusus untuk mewartakan konflik tersebut dari kelompok Islam dan ada yang dari kelompok Kristen. Perang pun diperluas di dunia maya.

Ada stereotype-stereotype yang menjadi mainstream pemberitaan/penulisan tentang konflik tersebut. Stereotype yang turut dipasarkan oleh media cetak/internet antara lain konflik Kristen versus Islam, pendatang versus penduduk asli, kecemburuan sosial, adanya pemicu berupa Kristenisasi, Islamisasi , konspirasi politik Jakarta (dengan keterlibatan militer), dsb.

Terbayang oleh saya, warga yang sedang chaos saat konflik berlangsung kemudian mendapat propaganda-propaganda menyesatkan dengan stereotype Kristen versus Islam dan dikuatkan oleh laskar-laskar dari kedua belah pihak yang mengendalikan konflik. Warga terbawa arus saja.

Terbayang bagaimana hal itu menjadi ingatan (memori) warga, padahal keliru.

***

Sekarang, jangan lagi terjebak dengan stereotype yang berseliweran dan menjadi mainstream bahan bacaan kita di media online yang menjadi artefak konflik-konflik tersebut.

Saya percaya hampir semua Muslim dan Kristen di Indonesia tidak saling membenci. Hanya segelintir saja yang tidak demikian.

Saya tetap percaya bahwa Bangsa Indonesia itu punya ikatan sebagai NKRI tanpa preseden separatisme (kecuali Timor Timur, Aceh dan Papua).  Separatisme RMS berbeda karena dianggap tidak mewakili seluruh komunitas/rakyat Maluku karena kelompok muslim yang jumlahnya hampir separuh Maluku, bukan termasuk pendukung RMS dan orang Kristen pun tidak semua pendukung.

Saya percaya bahwa orang Maluku cinta NKRI karena sangat biasa mereka memasang foto sultannya bersebelahan dengan foto Bung Karno seperti yang saya lihat di warung-warung makan.

Saya percaya bahwa orang Jawa berhak pergi ke luar Jawa dan daerah-daerah di Tanah Air. Seperti juga orang-orang daerah lain berhak ke Jakarta dan Jawa.

Tapi…. kepercayaan tanpa pengertian yang baik itu buta. Bagaimana saya bisa mengerti lebih baik ya sementara informasi yang saya dapat hanya dari media yang isinya penuh stereotype begitu?

***

Bagaimana mengobati luka yang dalam itu??? Akankah konflik semacam itu terjadi lagi di waktu ke depan????

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang muncul di benak saya. Kenapa sudah sepuluh tahun lebih masih belum dihilangkan jejak-jejak yang traumatis begitu ya? Kenapa reruntuhan hitam mesjid, gereja, pesantren tersebut tidak diubah menjadi taman yang asri atau sesuatu yang bisa melupakan luka atau menimbulkan perdamaian.

Semua jejak itu –termasuk gambar-gambar yang memilukan di internet- mengapa tidak dihilangkan saja agar luka bisa sembuh? Yah, itu pertanyaan itu menggelora dalam bathin saya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s