Belajar di Kolam Renang

Standar

Melihat kolam renang dan airnya yang biru bergelombang memang menyejukkan. Tapi terjun ke dalamnya? Nanti dulu. Takut ah.

Memang setiap anak berbeda. Ada anak yang sangat percaya diri belajar berenang. Ada juga anak yang takut setengah mati melihat kolam renang. Anak saya termasuk yang takut belajar berenang. Hanya mau main air saja di kolam renang anak-anak yang dangkal.

Awalnya, saya membiarkan saja anak saya bermain air. Termasuk di kolam renang yang merupakan tempat rekreasi dan memiliki seluncuran, air mancur, dan air terjun buatan.

Ikut les berenang? Anak saya geleng-geleng kepala. Saya tidak memaksa, hanya menjelaskan bahwa belajar berenang itu perlu. Lha, Indonesia Raya ini kan negeri yang samuderanya lebih luas dari daratan, mosok tidak pandai berenang. Tapi anak saya belum berani les berenang karena itu berarti “berenang betulan” di kolam renang yang kedalamannya lebih dari 1,5 meter.

Meskipun suka naik sepeda dan main bola, anak saya tambah gendut karena doyan makan. Menerima banyak komentar tentang badannya, anak saya yang keranjingan bola mulai berfikir bagaimana cara mengurangi kegemukan. Terfikirlah olehnya “berenang”!!

Maka kelas 3 SD, dia menyatakan kesediaannya untuk les berenang. Jadi, motivasi di belakang kesediaannya untuk les renang itu membuatnya berusaha melawan takut dengan kolam renang. Awal-awal les berenang, hatinya jeri juga dan ingin mundur. Namun, saat les berenang itu dia melihat beberapa anak kecil (bahkan balita) yang sudah lebih lama les, tidak takut berenang di kolam yang kedalamannya 1,8 meter.

Malu untuk mundur, anak saya meneruskan les renangnya. Dalam waktu 4 bulan, sekarang si gendut itu sudah menguasai 3 teknik renang. Bisa mengambang di atas air sedalam 1,8 meter. Percaya diri di kolam renang.

Apa saja yang anak saya telah belajar di kolam renang? Selain belajar berenang, anak saya belajar menghadapi rasa takutnya. Juga belajar memahami bahwa setiap orang berbeda dengan melihat bahwa ada anak-anak yang sangat pemberani di kolam renang. Itu tidak membuatnya kecil hati tapi justru kagum terhadap keunggulan orang lain. Terutama anak kecil yang pandai berenang dan lincah seperti seekor ikan.

Lalu, bagaimana dengan problem kegemukannya? Berhubung berenang itu membuat lapar, berat badannya malah bertambah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s