Konsep dan Prinsip Comdev

Standar

Saya pertama kali mengenal istilah pengembangan masyarakat (community development) itu sejak terjun ke dunia LSM pada awal tahun 1994.

Sekarang ini rasanya hanya bernostalgia saja karena jaringan LSM comdev yang pernah marak berkembang pada tahun 1980-an dan 1990-an ini sekarang sudah digantikan oleh hingar-bingar isu program penguatan tata pemerintahan terutama advokasi anggaran.

Kalau pada era program comdev, kerangka dan perspektif gender sedang hangat-hangatnya, maka pada era tata pemerintahan dan advokasi anggaran kerangka dan perspektif pro-poor dan pro publik menjadi hangat. Meskipun juga berkembang apa yang disebut anggaran pro gender.

***

Saya bukan praktisi comdev (atau sering disingkat CD) seperti teman baik saya Joseph Asa dan Vinsent Nurak dari YMTM-TTU yang bekerja bersama masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur untuk pengembangan pertanian lahan kering. Saya bekerja di Studio Driya Media, sebuah LSM yang yang bekerja untuk menyediakan dukungan pelatihan metodologi partisipatif dan media pembelajaran masyarakat untuk LSM-LSM pelaku comdev tersebut.

Sebagai orang yang pekerjaannya “merecoki” teman dengan berbagai topik pembelajaran untuk para fasilitator masyarakat di lembaganya, saya sering berperan sebagai pencari bahan rujukan. Salah satu yang saya kembangkan adalah sejumlah bahan bacaan berikut ini:

1-pengertian-pengembangan-masyarakat

2-kerangka-kerja-pengembangan-masyarakat

3-prinsip-pengembangan-masyarakat

4-pelaku-praktek-CD

Rujukan yang saya gunakan untuk menyusun materi diskusi tentang apa itu pengembangan masyarakat adalah buku Community Development ; Creating Community Alternatives, Vision, Analysis & Practice; Jim Ife, Longman, 1995. Dapat dikatakan saya membaca dan merangkum buku tersebut tapi dengan mencari-cari dan melengkapi dari bahan-bahan/sumber lainnya juga.

Susah juga pada saat itu internet belum seperti sekarang yang suasananya sudah memudahkan kita mengakses informasi dan pengetahuan lain. Antara tahun 1990-an sampai 2000-an itu, isu bahwa informasi dan pengetahuan masih secara sengaja dikuasai dan didominasi masih kental termasuk di kalangan LSM. Pernah jadi topik diskusi di milist (waktu itu milist masih ramai) sekarang sih sudah sepi dan digantikan media jejaring sosial.

Jadi, susah juga mencari bahan tulisan tentang comdev di internet. Hanya karena lembaga punya jaringan yang luas ya masih bisa menemukan sedikit-sedikit tulisan tipis tentang konsep comdev dari publikasi program LSM atau funding.

Sekarang juga masih susah kalau mencari literatur comdev dari penulis Indonesia, terutama buku-buku. Tapi sekarang sih kita bisa menemukan banyak web/blog yang menulis tentang pengembangan masyarakat baik dari kalangan akademisi maupun lembaga program di Indonesia. Juga lembaga internasional. Era berbagi informasi sekarang ini memungkinkan kita bisa memperoleh sumber informasi dan pengetahuan karena justru lembaga ingin menampilkan reputasi dan kredibilitasnya dengan menjadi sumber rujukan.

Syukurlah.

***

Salah satu kelakuan saya di masa akses informasi dan pengetahuan masih terbatas adalah membawa oleh-oleh buku untuk teman-teman jaringan yang ada di Nusa Tenggara. Syukur, lembaga funding setuju ada alokasi dana untuk itu. Buat teman-teman yang berani-beraninya meledek saya soal isu gender, segera saya balas dengan memberikan buku tentang gender yang ditulis alm. Mansour Fakih dan yang saya temukan di toko buku.

Begitulah.

Saya menyusun materi-materi konsep pengembangan masyarakat di atas untuk bahan diskusi dengan teman-teman LSM untuk dijabarkan menjadi kerangka kerja dan prinsip-prinsip berdasarkan apa yang dilakukannya di lapangan. Mudah-mudahan kemudian bahan ini bermanfaat untuk mendiskusikan dengan seluruh jajaran fasilitator masyarakat (petugas lapangan) dan kader-kader.

Banyak sekali PL dan kader yang hanya “mengenal ekor gajah tapi tidak tahu makhluk gajahnya seperti apa”.  Artinya, yang mereka tahu adalah pekerjaan mereka dalam pendampingan masyarakat itu adalah kerja teknis di kebun, tetapi bahwa pekerjaan tersebut bagian dari kerangka pemberdayaan yang disebut pengembangan masyarakat (gajahnya) lupa dibahas lembaga dengan mereka. Akibatnya ya para PL dan kader ini menjadi sangat teknis dan kurang melakukan proses-proses yang mendorong perubahan komunitas.

Saya upload lagi materi-materi di atas siapa tahu sekarang pun masih ada yang memerlukan. Pahala jadi bertambah, kan. Silakan unduh, gratis kok. Wong pekerjaan saya itu membacakan buku dan kemudian menceritakan ulang dengan cara yang rame supaya yang diajak ngobrol senang.

Oh, itu sebabnya sahabat saya Vinsent Nurak itu senang kalau saya datang. Bahkan kalau ada buku tebal yang harus dibaca karena sedang jadi topik trend di kalangan pembanguna tapi kelihatan menjemukan untuk dibaca, dia bilang kepada saya: “Baca dong. Terus ceritain sama saya….”

Hehehe, si bung mungkin tidak membaca blog ini. Mungkin sekarang sedang sibuk nyalon bupati sih. Cerita di atas kan sudah jadul sekali.

Makanya blog ini disebut “artefak belajar”.

***

Heeee, biar sudah jadul tapi buku rujukan saya di atas ternyata baru sekarang diterjemahkan dan dicetak eksklusif  lho. Saya ketemukan di toko buku Gramedia.

Jadi, masih relevan. Selama belum ada yang lain.

Program pengembangan masyarakat sekarang dikerjakan oleh LSM-LSM Internasional, funding, badan-badan PBB dan pemerintah pusat (PNPM itu!). Sedangkan LSM-LSM lokal sekarang direkrut oleh program-program tersebut. Tidak heran seorang teman berseloroh bahwa terjadi urbanisasi besar-besaran dari LSM ke PNPM. Wong fasilitatornya entah berjumlah puluhan atau ratusan ribu ya se-Indonesia, mulai dari fasilitator masyarakat sampai  fasilitator tingkat kabupaten/kota.

Terus juga ada guyon teman yang mengatakan bahwa LSM terbesar sekarang ya pemerintah pusat. Wong program comdev terbesar itu PNPM.

Tapi orang LSM juga tidak mau kalah. Banyak orang LSM yang jadi pejabat publik, baik itu jadi legislatif maupun nyalon di pilkada, atau masuk KPU dan Komisi-komisi lainnya. Makanya LSM yang bahasa inggrisnya Non Governmental Organization atau disingkat NGO sering dipelesetkan kepanjangannya menjadi Next Governmental Official.

Kok jadi ngobrol kemana-mana.

Silakan saja yang perlu bahan bacaan tentang apa pengembangan masyarakat untuk mengunduh lampiran di atas. Gratis.

Cari juga web-web yang bagus dari kalangan akademisi dari STKS Bandung yang banyak nulis tentang comdev. Salah satu trend topik yang berkembang adalah comdev sebagai program Corporate Social Responsibility dari perusahaan.

Kalau beli buku Jim Iffe  terjemahannya di Gramedia,  ya bayar.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s