Program Training LSM Comdev

Standar

Merancang program pelatihan dan merancang pelatihan jelas sangat berbeda. Program pelatihan lebih menyeluruh dan disusun melalui proses kajian kebutuhan yang tidak sebentar. Jenis-jenis pelatihan disusun berdasarkan ketegori peserta dan kebutuhannya masing-masing.

Dalam pengalaman saya di dunia pengembangan masyarakat, saya mengenal program pelatihan oleh kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) selama era 1990-an sampai 2000-an, dilakukan dengan cara berikut.

Pertama, LSM yang pekerjaan utamanya program pendampingan masyarakat di sektor teknis (pertanian, kerajinan, alternatif usaha ekonomi, kesehatan) dan menyusun program pelatihan sebagai support program yang penting. Pelatihan-pelatihan itu disusun untuk kebutuhan staf lembaga dan masyarakat dampingan. Pelatihan untuk staf, untuk mengembangkan kemampuan yang harus ada agar bisa mendelivery kegiatan dengan baik. Sedangkan untuk  peserta program (beneficiaries) dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian  tujuan program melalui peningkatan kapasitas masyarakat. Tujuan programnya sendiri adalah peningkatan kehidupan masyarakat.

Kedua, ada LSM pendampingan masyarakat yang menkonsepkan hampir seluruh programnya sebagai program pemberdayaan atau pendidikan kritis. LSM-LSM advokasi memiliki ciri seperti ini. Masyarakat dampingannya menjadi jago berdiskusi, terampil bicara di forum, dan suka berdebat. Maklum isu-isu advokasi juga memang berat-berat, seperti pelanggaran HAM, penggusuran tanah, perburuhan, kerusakan lingkungan, dan sebagainya.

Ketiga, LSM yang memang programnya adalah program pelatihan dan menjadi lembaga penyedia pelatihan bagi LSM-LSM lain. Lembaga jenis ini bisa merupakan lembaga baru dari sebuah lembaga yang mempunyai seabrek pengalaman lapangan sehingga sering dijadikan narasumber atau diminta melatih lembaga lain. Akhirnya mendirikan lembaga pelatihan untuk memenuhi kebutuhan ini. Bisa juga sebuah lembaga pelatihan mempunyai program lapangan sebagai site belajar dari menu-menu pelatihan yang dikembangkannya untuk membantu lembaga lain dengan pelatihan dan penguatan kapasitas.

Keempat, jaringan LSM menyelenggarakan pelatihan kolaboratif untuk penguatan kapasitas staf-stafnya. Kalau ini sih pengalaman yang cukup panjang di jaringan regional Nusa Tenggara maupun jaringan nasional. Jaringan bisa membentuk tim pelatih dari personil-personil lembaga mitra untuk kepentingan bersama. Saya pernah mendokumentasikannya dalam bentuk laporan berjudul “Mengelola Pelatihan Kolaboratif”. Siapa yang membiayai pelatihan ini? Lembaga funding pendukung jaringan. Jadi kompetensi yang dimiliki lembaga dipertukarkan dalam rangka berjaringan makanya disebut jaringan sharing learning.

***

Nah, saya berkecimpung di model pelatihan yang keempat dan banyak bergaul dengan LSM-LSM yang tentunya perlu menyusun program pelatihan. Nah karena bergaulnya dengan LSM comdev maka model pelatihan yang pertama yang dilakukan oleh LSM-LSM yang saya kenal.

Program pelatihan yang dirancang untuk menjadi support program sebuah organisasi pengembangan masyarakat disebut community development-based training. Dikembangkan sebagai komponen program pengembangan masyarakat untuk membantu pencapaian tujuan programnya. Misalnya, sebuah LSM yang mengembangkan program pertanian, memiliki bidang program pelatihan dengan materi berbeda untuk 3 kategori petani (petani maju, madia, dan pemula). Selain itu, lembaga juga mengembangkan pelatihan untuk internal stafnya (in house training) agar terjadi penguatan kapasitas untuk fasilitator dan kader-kader masyarakat yang baru.

Untuk memiliki disain program pelatihan yang menyeluruh dan sistematis, bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah lembaga. Pengetahuan yang dikembangkan dan ingin diregenerasi akan terkumpul dengan pengalaman bertahun-tahun. Karena itu, sebaiknya terjadi pertukaran belajar antar lembaga. Sehingga proses belajar itu bisa dibagi dan tidak perlu belajar dari awal bila sudah ada pengalaman lembaga lain.

Selain itu, sangat perlu “berbelanja” pelatihan dari lembaga-lembaga yang sudah berpengalaman di lapangan dan mempunyai layanan pelatihan, sebab akan mempercepat transfer pengalaman dan pengetahuan. Jadi, jangan pernah lupa untuk memasukkan kebutuhan anggaran pelatihan dan penguatan kapasitas untuk staf selama dilakukan secara selektif sesuai kebutuhan yang dirasakan dan sumber belajar yang tepat. Mahal? Nah, bisa dilakukan di jaringan, jadi bayar pelatihannya bisa urunan kalau tidak ada slot dari funding.

Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS) Solo pernah menjadi lembaga penyedia pelatihan yang paling lengkap dan teratur untuk kebutuhan lembaga-lembaga yang bekerja untuk pengembangan masyarakat. Kantor saya selalu mendapatkan brosur pelatihan yang sedang dibuka secara teratur dari YIS. Entah kenapa orang kantor selalu meletakkannya di atas meja saya. Mungkin karena saya suka mengkoleksi modul pelatihan.

Gak nyambung.

Tentu saja ada lembaga-lembaga pernyedia pelatihan lainnya dengan jenis pelatihan yang menjadi cirinya masing-masing.

***

Sekarang ini, lembaga-lembaga pelatihan pun beralih sasarannya bukan untuk menyediakan layanan bagi kalangan LSM lokal tetapi untuk program lembaga internasional (funding, LSM internasional, badan PBB) dan pemerintah. Bahkan personil-personilnya yang direkrut sehingga lembaga-lembaga penyedia pelatihan yang pernah kuat juga mengendur keberadaannya.

Yah, karena LSM-LSM lokal sudah juga berubah keadaannya dengan berkurangnya dukungan dana untuk program/kegiatan mereka.

Sekarang ini banyak lowongan kerja sebagai training spesialist yang termasuk jenis pekerjaan konsultan jangka pendek (3 bulan, 6 bulan atau per pelatihan).

Saya tidak terbayang, aset ilmu pelatihan di kalangan LSM itu ditaruh kemana ya?  Banyak LSM lokal yang program pelatihannya sudah tersusun bagus dan tidak punya kebiasaan menulis buku, jadi sayang sekali kalau hilang.

Itulah salah satu alasan saya membuat blog ini. Menuliskan pengalaman yang sudah-sudah baik sebagai fasilitator maupun pelatih, meskipun sekarang situasi berubah. Supaya jangan hilang.

Apalagi pemerintah sekarang sedang mempersiapkan lembaga sertifikasi fasilitator, kan masih bermanfaat lah sebagai referensi. Sebagai konsekuensi lembaga sertifikasi tentunya kan tersedia program pelatihannya. Biasanya sih materinya jenerik dan dalam waktu singkat.

Anda harus mengembangkan jam terbang supaya jadi fasilitator handal. Sedang saya menulis di blog ini, pengalaman jadi fasilitator lebih dari 15 tahun lho, makanya saya suka pakai sandal.

Gak nyambung lagiii.

***

Gara-gara menulis contoh lembaga pelatihan YIS, jadi teringat sama Mas Agung dari YIS yang lama berteman di jaringan PNF bersama lembaga saya. Boleh kan mas panduan renstranya di-share di blog ini…. untuk beramal ilmu.

Buat apa tapi ya? Dulu sih LSM bisa bikin rencana strategis (renstra) program 5 tahun, wong fundingnya baik-baik mau berkomitmen jangka panjang. Sekarang mana adaaaa….  Gak perlu ada renstra, dan gak perlu evaluasi dan perencanaan (evaperca) tahunan. LSM sekarang jadi pelaksana program saja kok, kontrak tahunan….

Gak nyambung kok terus-terusan….

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s