Anak Ber-internet, Ortu Guling-guling

Standar

InternetKedua anak saya lahir dan dibesarkan di jaman komputer dan internet. Anak sulung saya lahir 1998 sehingga mulai mengenal komputer dan internet lebih lambat dari adiknya yang lahir tahun 2002. Kalau adiknya, umur 2 tahun sudah ngotot mau main edugames. Umur 3 tahun sudah menyalakan komputer sendiri, memasukkan CD ke dalam drivenya dan sambil menunggu dia akan melihat wajah saya sambil bilang “loding…” (loading). Lama-lama juga ngotot untuk ikut main games online seperti kakaknya.

Berikut adalah cerita tentang si anak sulung dalam menggunakan internet. Ortu juga jadi ikut belajar. Dalam pembelajaran bersama itulah konflik dan masalah berkembang. Tentu dengan keyakinan bahwa internet bagaimana pun ada dan seharusnya dimanfaatkan dengan baik. Belajar internet bukan belajar telnologi saja melainkan juga belajar memahami kebaikannya dan menghindari keburukannya. Itu yang saya tanamkan kepada anak.

***

Kelas 2 SD.

Anak sulung pertama kali mengenal komputer ketika kelas 2 SD dan menggunakannya untuk main edugames. Saat itu dia sudah akrab dengan cara menyalakan komputer, menggunakan mouse, menginstall CD, dan menelusuri menu-menu permainan (games). Permainan berbahasa Indonesia kami temukan dan beli di Toko Buku Gramedia yaitu produk Akal. Permainan berbahasa Inggris yang disukainya adalah Bobby Bola, Dora, Spongebob, dan Scooby Doo. Emang repot karena selalu minta tolong orang tua memahami kata-kata Bahasa Inggris, tapi lama-lama anak saya pandai “menebak” arti kata Bahasa Inggris tersebut. Jadi, lumayanlah bisa menambah kosa kata Bahasa Inggrisnya. Setelah film Harry Potter terkenal, anak saya sangat suka dengan gamesnya. Juga mulai suka dengan games strategi perang dan zombie-zombie-an.

Halah, saya mulai merasa senewen melihat games berdarah-darah itu. Kena tembak, muncrat deh…. kata si kecil yang menontoni kakaknya.

Kelas 4 SD.

Anak saya mulai mengenal internet. Nah, ini yang membuat masalah. Sekolah belum siap memperkenalkan internet, mengantisipasi dampaknya. Jangankan antisipatif, guru-gurunya saja masih belum akrab dengan internet. Para orang tua murid pun begitu.

Saya yang sehari-hari bekerja dengan komputer dan menggunakan internet di kantor saja masih sangat terbatas kemampuannya. Apalagi ibu rumah tangga. Bapak-bapak juga sama saja.

Sekolah mendatangkan guru eskul untuk belajar komputer dan internet. Jumlah komputer terbatas, jumlah guru cuma seorang, jumlah jam belajar juga terbatas, tidak mungkinlah sempat-sempatnya mempelajari internet ini dari banyak aspek. Pengenalan teknis saja mungkin sudah repot. Apalagi membahas netiket atau prinsip-prinsip penggunaan teknologi tersebut.

Apa yang terjadi? Dengan pengenalan yang terbatas, beberapa anak mulai “berpetualang” mencari tahu tentang internet. Mereka terutama mencari games dan mencoba-coba games online. Untuk melakukan ini, mereka berombongan ke warnet.  Anak-anak juga belajar mengunduh (donwload) games dan gambar-gambar komik kesukaan.

Pada waktu yang bersamaan, anak-anak juga mulai memiliki handphone. Maksud orang tua, biar mudah berkomunikasi dengan anak. Apakah anak sudah pulang, atau anak minta ijin untuk belajar di rumah teman.

Namun apa yang terjadi? Ketika si sulung kelas 5 SD, sekolahnya mengadakan razia handphone dan menemukan gambar-gambar porno di hampir semua murid lelaki di kelas anak saya. Rupanya  muncul ekses negatif anak belajar berselancar (browsing) dan mengunduh di internet, yaitu “tersesat” ke situs porno.

Mulailah orang tua terguling-guling dengan masalah internet ini. Waduh, tugas tambahan untuk mendampingi anak, tapi juga harus belajar dulu seluk beluk internet.

Kelas 6 SD.

Anak sulung saya lebih suka games online sehingga sering minta uang ke internet khusus games karena kemampuan komputer di rumah terbatas dan juga bermain bersama teman. Keping-keping CD edugames Akal, Bobby Bola, Dora, dan Spongebob  sudah diwariskan kepada adiknya yang belum lancar berbicara tapi sudah bisa menyalakan komputer dan mengatakan “install” dan “loading” dengan logat bicara anak kecil.

Apabila sebelum-sebelumnya anak saya masih suka membaca buku cerita, sekarang kelihatannya sudah lupa dengan buku. Padahal sejak balita dia tidak bisa tidur tanpa dibaca buku dan membaca buku terlebih dahulu. Sekarang, malah susah disuruh tidur karena main games. Kalau di rumah, games perang dan The Simms yang paling suka dimainkannya.

Anak saya sudah mulai sulit diajak bicara tentang membagi waktu, belajar, membaca buku, dan ketemu teman. Bahkan saya sering menyatakan keheranan karena dia bergeming saja di depan komputer ketika teman-temannya datang mengajak main bola. “Pergi main bola….”  terpaksa saya sedikit memaksa.

SMP.

Saya senang sekali karena anak saya memilih masuk sekolah berasrama (boarding school) karena itu akan membuat dia bertemu dengan banyak teman, mengikuti program kegiatan yang diatur oleh sekolah maupun pesantren. Mudah-mudahan saja itu akan membuatnya tidak lagi menghabiskan waktu hanya di depan komputer untuk main games.

Sekolah anak saya itu memiliki hotspot dan saya heran karena belum banyak anak yang memiliki laptop. Lalu, buat apa diadakan hotspot internet?

Beberapa sekolah sudah memiliki hotspot dan murid-muridnya membawa laptop untuk dipergunakan pada jam-jam istirahat. Karena itu, bagi saya masuk akal saja memberi anak saya laptop pada saat kelas 2 SMP.

Saat yang bersamaan, facebook mulai merebak ke anak-anak sekolah (SMP dan SMA) sehingga menambah keasyikan anak dengan internet.

Guru dan murobi mulai sering menelepon kami (orang tua) mengenai ketidakdisiplinan anak saya dalam menggunakan laptop sehingga dianggap mengganggu kegiatan belajar.  Meskipun setiap jam 9 malam benda itu harus diserahkan kepada murobinya masing-masing (ustadz yang mendampingi satu kelompok santri), namun penggunaan internet dianggap mengganggu.

Kelas 3 SMP kami mengambil laptop tersebut sebagai sanksi atas ketidakdisiplinan anak saya terhadap aturan sekolah dan pesantren dan nilai-nilai yang buruk karena perhatiannya kurang terhadap pelajaran. Saya sendiri sudah bosan menagih kapan anak saya menjadwalkan les berenang dan juga menyediakan waktu untuk ikut kelompok beladiri atau sepakbola. Semua fasilitas untuk kegiatan olahraga ada, mulai dari kolam renang, lapangan futsal, sarana panjat dinding dan bulu tangkis. Begitu juga les komputer, musik, dan kelompok menggambar juga ada. Saya heran anak saya tidak memilih satu pun.

Soal laptop yang membawa masalah, anak saya tidak pernah membantah hal itu. Dia menerima saja sanksi tersebut dan sekarang hanya menggunakan laptopnya bila pulang ke rumah setiap 2 minggu sekali.

***

Mungkin setiap anak memiliki sifat dan karakter berbeda sehingga dampak buruk internet juga bisa berbeda pada anak. Saya melihat perbedaan yang sangat jauh antara anak sulung dengan adiknya yang lebih suka main bola, naik sepeda dan hanya asyik main games online bila ada teman (main bersama). Adiknya tidak merasa asyik kalau sendiri, berbeda dengan kakaknya yang menjadi asyik sendiri main games.

Internet, oh, internet…. Manfaat sih manfaat, tapi masalahnya bikin ortu kepengen guling-guling di lantai… Kesabaran yang diuji.

***

One response »

  1. kalau saya biasanya hanya sabtu minggu anak boleh menggunakan internet dirumah, selain hari itu tidak dan pastinya kita ada didekatnya untuk memonitor apa yang anak lakukan di internet🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s