Pelatihan untuk Fasilitator Masyarakat

Standar

Sebuah lembaga yang mengembangkan program pendampingan masyarakat -dengan agenda dan isu program apa pun- seharusnya menyelenggarakan penguatan kapasitas untuk para fasilitatornya. Baik itu fasilitator yang merupakan staf lembaga atau fasilitator yang berasal dari masyarakat dampingan.

Sangat mengherankan bila pada sebuah lembaga tidak dilakukan suatu pembelajaran para fasilitatornya sehingga mereka bahkan tidak memahami apa dan siapa seorang fasilitator di dalam program lembaganya, serta bagaimana mereka diharapkan berperan untuk mencapai tujuan program maupun lembaga. Tapi dalam kenyataannya seringkali fasilitator menjalankan kegiatan-kegiatan tanpa memahami kerangka strategis program tersebut dan hal ini menyebabkan dirinya tidak leluasa mengembangkan inovasi dan bersikap kreatif terhadap tantangan di wilayah dampingan yang menjadi tugasnya.

Para fasilitator masyarakat ini hanya menjalankan penugasan dari supervisor atau koordinator programnya dan terjadi penyeragaman kegiatan. Padahal jelas setiap lokasi program memiliki situasi berbeda dan seorang fasilitator harus mengembangkan caranya sendiri di wilayahnya.

Mengapa hal itu terjadi? Kendala utama seringkali adalah karena lembaga tidak memiliki program training dan penguatan kapasitas yang terstruktur. Kalaupun dilakukan pembelajaran berupa pertemuan bulanan atau dua mingguan di antara para staf lapangan, supervisor/koordinator program dan pimpinan lembaga, hal itu dilakukan secara tercecer. Sebagai LSM pengembangan program, biasanya tidak memiliki staf khusus untuk mengembangkan program training bagi kebutuhan staf/personil lembaganya, termasuk para fasilitator dari kalangan masyarakat yang sangat perlu diperkuat kapasitasnya sebagai penggerak dan juga fasilitator program.

Pelatihan internal lembaga (in-house training) perlu menjadi perhatian demi kepentingan masyarakat dampingan. Program akan bermanfaat bila para fasilitatornya bekerja secara baik, bukan hanya menjalankan daftar tugas tetapi memahami arah pemberdayaan dan perubahan masyarakat dampingan yang harus dikembangkan.

***

Lembaga program yang “kaya” bisa membuat program pelatihan dengan membayar pelatih dari luar atau mengirim stafnya untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan lembaga penyedia pelatihan. Ini jelas sangat mahal dan tidak cukup karena hanya bisa meminta suatu pelatihan tertentu dan atau mengirim jumlah staf yang terbatas untuk mengikuti pelatihan.

Sementara itu, lembaga membutuhkan pelatihan yang mendukung programnya secara menyeluruh dan juga memperkuat kapasitas semua stafnya, termasuk fasilitator/kader/CO dari kalangan masyarakat. Belanja pelatihan kepada pihak luar tidak akan memenuhi seluruh kebutuhan pelatihan. Sangat mendasar bagi lembaga untuk menyusun program penguatan kapasitas dan pembelajaran, bukan hanya dalam format pelatihan (training) tetapi juga dalam berbagai format lainnya.

Kombinasi kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan lembaga, misalnya:pertemuan bulanan atau dua mingguan selain untuk monitoring juga untuk sharingpembelajaran kegiatan di lapangan bisa ditambah dengan pelatihan singkat berdasarkan kurikulum yang disusun bersama untuk mencapai suatu kapasitas para fasilitator masyarakat yang diharapkan, magang fasilitator baru kepada fasilitator lama, penugasan lapangan dengan backstopping dari fasilitator yang lebih berpengalaman untuk suatu kegiatan, penugasan membaca buku dan diskusi tematik berkala, meminta pelatihan tertentu kepada pihak luar untuk suatu materi penting, dan sebagainya.

***

Jadi, pelatihan bukanlah satu-satunya format penguatan kapasitas yang perlu dikembangkan oleh lembaga. Namun ketika lembaga memiliki perhatian untuk memperkuat kapasitas stafnya -dalam hal ini fasilitator lembaga maupun masyarakat- hal itu akan menciptakan suatu semangat karena merasa mendapatkan perhatian dan penghargaan terhadap suatu pengembangan kemampuan. Suasana pembelajaran yang diciptakan lembaga akan mendorong upaya pembelajaran individu secara otonom. Spirit ini tidak akan berkembang bila lembaga tidak mempunyai agenda pelatihan dan pembelajaran apa pun untuk sumber daya manusia yang sangat penting itu.

Direktur LSM dapat menugaskan stafnya untuk menyiapkan sebuah pelatihan tertentu justru sebagai penghargaan atas kemampuannya -bukan sebaliknya menganggap itu sebagai sebuah “kerepotan” dari tugas pokok stafnya. Suasana ini perlu ada di sebuah LSM. Bila staf bersemangat dengan kesempatan ini, jangan sampai pimpinan lembaga justru merasa stafnya sedang mengerjakan tugas di luar job-desnya. Atau sebaliknya, pimpinan lembaga menganggap tugas ini sebagai peluang pengembangan kapasitas staf sebagai pelatih (trainer) internal lembaga, tetapi stafnya menganggap sebagai beban tambahan tanpa tambahan insentif.

Membangun program pelatihan dan pembelajaran adalah upaya mengembangkan kultur belajar dalam sebuah organisasi, bukan hanya sekedar untuk membuat pintar staf-stafnya tetapi menciptakan staf-staf yang selalu haus akan pengembangan diri. Bangga pada suatu peningkatan kapasitas dirinya dengan tidak terlalu melihatnya dari sisi insentif.

Sangat mengherankan jika staf LSM menganggap penguatan kapasitas dirinya itu sebagai penambahan beban kerja (tambah pinter, malah ditimpuki banyak tugas) atau tidak perlu kalau tidak disertai peningkatan insentif.  Tidak terfikirkan olehnya bahwa meningkatkan kapasitas diri itu bermanfaat untuk masyarakat yang didampingi. Lho, kalau pendampingnya bodo bagaimana mau memberdayakan dan mencerahkan masyarakat, hahaha.

***

Berikut ini adalah contoh materi pelatihan dasar untuk para fasilitator masyarakat lembaga:

Kisi-kisi Kurikulum Pelatihan Fasilitator Masyarakat-Ria

Pelatihan semacam ini bagus juga diikuti oleh semua jajaran stafnya dan para fasilitator/CO/kader dari kalangan masyarakat. Jadwal yang ada di belakang kurikulum disusun untuk rancangan proses pelatihan 3 hari secara full time. Bisa saja penerapannya diubah, pelatihan dibuat bertahap (dicicil) dan dilakukan sebulan sekali. Materi juga disesuaikan dengan kebutuhan. Misal ada materi tentang teknik penulisan laporan pendampingan yang bersifat review dan menarik pembelajaran (lesson learned) atau penulisan catatan harian (field diary) atau jurnal pendampingan.

Melalui pelatihan mengenai apa, siapa, mengapa dan bagaimana seorang fasilitator berperan dan bekerja di lapangan maka akan terbangun suatu kesamaam pemahaman dan penguatan komitmen untuk bekerja dan mengabdi bagi masyarakat.

Saya senang saja kalau diundang menjadi “pelatih tamu” dan bertemu dengan para fasilitator baru maupun lama. Saya selalu mengatakan yang sama:
Semua materi pelatihan yang saya berikan perlu dipergunakan lagi untuk pelatihan serupa tetapi Anda lah menjadi pelatihnya.  Tentu saja Kawan-kawan perlu mencari sumber lain untuk melengkapi dan mengembangkan materi pelatihan yang lebih baik.  Kawan-kawan harus membantu orang lain belajar dan untuk itu harus belajar terlebih dahulu. Akan selalu ada para fasilitator yang baru yang perlu belajar dari Anda bila sudah menjadi fasilitator yang lebih lama.

Pertanyaan yang penting menurut saya untuk dilontarkan kepada peserta pelatihan yang merupakan para fasilitator masyarakat, adalah: Bagaimana perasaan Anda setelah beberapa sesi kita lalui?

Senang sekali kalau mendapat jawaban: Waaah, jadi semangat lagi menjadi fasilitator. Pokoknya saya mau jadi fasilitator handaaal….

Buat saya pinter atau handal itu nomor dua, yang paling penting senang dan cinta menjadi fasilitator masyarakat. Karena itu, rancangan pelatihan untuk fasilitator sebaiknya tidak hanya bobot pada keterampilan sebagai fasilitator. Keterampilan dan kepiawaian tidak bisa dilatihkan dalam beberapa hari, itu hanya bisa berkembang di lapangan dengan jam terbang. Yang penting dalam pelatihan diberikan masukan tentang ruang lingkup kapasitas yang harus dikembangkan oleh seorang fasilitator masyarakat.

Selebihnya, pelatihan ini untuk membangun spirit, kebersamaan, dan kecintaan kepada kerja-kerja masyarakat.

***

Fasilitator yang sudah lama berkecimpung menjadi fasilitator, jangan pernah bosan menceritakan apa dan siapa fasilitator masyarakat itu. Karena, selalu ada para fasilitator baru, dan mengherankan sekali bila mereka tidak memahami apa fasilitator itu. Apalagi kalau direkrut oleh sebuah proyek yang memberikan daftar tugas secara rinci, fasilitator masyarakat hanyalah sebagai operator saja.

Mungkin ke depan, para fasilitator akan semakin tidak ideologis tapi profesional.Seperti yang saya tulis di “Sertifikasi Fasilitator – Kenapa?“. Melalui sertifikasi fasilitator, standardisasi kompetensi akan disediakan oleh lembaga penyedia pelatihan yang mengeluarkan sertifikat tersebut.

Mungkin ini bagus ya, wong orang LSM sendiri perlu digaji untuk menjadi fasilitator, masyarakat pun barangkali harus diberi kesempatan untuk bekerja sebagai fasilitator asalkan terus mengembangkan kompetensinya.

Waaah, saya bukan fasilitator bersertifikat…. haha. Biarlah, perubahan jaman memang tak terhindari. Buat saya, menjadi fasilitator menjadi keterpanggilan, bukan sekedar profesi. Semi amatir, istilah teman saya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s