TEKNIK BERTANYA – ilmunya darimana?

Standar

Salah satu materi pelatihan fasilitasi yang sering diminta mitra adalah teknik bertanya.  Selama berkiprah menjadi fasilitator, bagaimana saya mengembangkan kemampuan bertanya ini ya? Saya jadi coba mengingat-ingat pengalaman saya sebelumnya.

Saat di sekolah, guru memang lebih banyak menyuruh murid mendengarkan dan mencatat pelajaran yang disampaikan. Makanya setiap pelajaran selalu harus punya buku catatan. Terkadang saja guru meminta kita bertanya dan selalu dimulai dengan pertanyaan dari guru: Ada yang tidak dimengerti? Tentu saja siapa berani mengaku tidak mengerti sama guru yang galak. Jadi, kesempatan pertama mengembangkan diskusi dan pertanyaan yang saya alami dilakukan di forum diskusi saat masih jadi mahasiswa. Sedangkan di ruang kuliah ya sama saja dengan di SD sampai SMA, lebih banyak mendengarkan, mencatat dan “ketiduran” di kelas.

Perkembangan pengalaman saya seperti ini.

Pertama, saat di perguruan tinggi , salah satu tradisi di jurusan saya adalah diskusi berkala. Mahasiswa senior menjadi coach, sedangkan mahasiswa baru belajar menjadi penyaji (presentator) dan peserta diskusi. Sebagai penyaji, saya harus belajar bicara di sebuah forum yang lumayan banyak audiensnya. Sedangkan sebagai peserta, saya harus belajar bertanya. Kemudian saya juga terlibat dalam organisasi mahasiswa yang menerbitkan koran kampus. Selain harus menulis, saya juga belajar bertanya (wawancara). Saya juga bergabung dengan kelompok diskusi ilmu-ilmu sosial yang mengembangkan pengalaman berdiskusi, berbicara, bertanya dan berdebat. Kelompok diskusi ini sering berinteraksi dengan kampus lain dan bersama-sama menghadirkan pembicara yang jadi favorit. Saya ingat Emha Ainun Najib dan Jalaludin Rahmat saat itu menjadi “teman diskusi” yang populer untuk pegiat forum diskusi kampus.

Kedua, saya berkesempatan menjadi jurnalis sekitar 2 tahun lamanya. Menulis laporan yang baik memang penting supaya tidak kertas laporan tidak diremukkan redaktur yang sewot sambil menyuruh tulis ulang. Tapi mengembangkan pertanyaan cerdas dalam melakukan wawancara itulah yang menjadi sumber tulisan yang bagus. Namanya juga tulisan berita, features atau profil.

Ketiga, saya berkecimpung di sebuah LSM yang langsung memberi saya tugas-tugas memfasilitasi baik forum pertemuan jaringan, lokakarya, pelatihan, maupun pengkajian lapangan. Pekerjaan ini memberi saya pengalaman untuk mengembangkan teknik-teknik fasilitasi yang memerlukan pertanyaan-pertanyaan fasilitasi yang efektif dan juga efisien dari segi waktu.

Saya suka jadi pemerhati, ternyata orang-orang yang berkarakter narasumber mengalami kesulitan yang berkaitan dengan mengembangkan pertanyaan diskusi agar materi yang disampaikannya dikritisi atau diberi tanggapan oleh peserta.  Seorang narasumber sepertinya menganggap peserta itu semua dalam posisi “bertanya” dan bukan memberi tanggapan, sedangkan narasumber sebagai “ahli” yang lebih tahu dan memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan peserta. Sebaliknya peserta pun menganggap narasumber itu juga dalam posisi seperti itu. Tapi peserta akan menjadi bosan ketika materinya ternyata tidak memberi hal baru menurut pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimilikinya.

Sangat berbeda pertanyaan yang memposisikan peserta sebagai penerima informasi dengan peserta sebagai pihak yang juga punya informasi, pengetahuan, pengalaman dan sanggup bersikap kritis. Sebagai fasilitator –bukan narasumber- saya lebih mengembangkan diri dalam membuat forum diskusi  ketimbang seminar atau ceramah narasumber. Kalau pun dihadirkan narasumber akademis, selalu disertai seorang moderator yang berkarakter fasilitator dan menempatkan narasumber sebagai pemberi masukan. Gaya talks show lebih menarik dikembangkan bila menghadirkan narasumber yang kebiasaannya ceramah. Atau diskusi panel bila dihadirkan beberapa narasumber sekaligus.

Bahkan dalam sebuah pelatihan pun, saya mengidentifikasi beberapa topik yang akan lebih berbobot bila menghadirkan narasumber. Misalnya: bila ada topik tentang kebijakan, narasumber yang menjadi policy maker terkait, akan lebih representatif membawakan materi, tetapi jangan sampai topik itu menjadi sesi seminar dalam suatu kerangka kurikulum pelatihan kita.

***

Kembali ke topik “teknik bertanya” yang perlu menjadi keterampilan seorang fasilitator. Saya pun bertanya-tanya kepada diri sendiri: Jadi, teknik bertanya itu ilmunya dari mana ya? Referensinya dari mana saja? Saya mencoba melist berdasarkan pengalaman sendiri.

Pertama,dari bidang ilmu manajemen dan organisasi.  Saya sendiri memperoleh pengalaman awal dari kegiatan berorganisasi. Memimpin rapat, memimpin pertemuan, melakukan diskusi tim, semua adalah kegiatan yang menggunakan banyak pertanyaan untuk dibahas. Saya perhatikan ternyata memang kalangan konsultan, pelatih dan fasilitator manajemen organisasi ini yang banyak menulis buku tentang teknik bertanya. Salah satunya teknik wawancara kerja yang artinya melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuk mendapatkan calon pegawai yang bagus. Selain itu seorang manajer juga perlu kemampuan bertanya untuk mengembangkan tim kerja yang performanya berkembang.

Kedua, dari bidang ilmu komunikasi. Saya memperoleh pengalaman lainnyanya dari kegiatan jurnalistik. Ternyata memang benar, teknik bertanya juga suatu materi yang dikembangkan oleh kalangan jurnalistik, terutama teknik wawancara. Selain itu ilmu komunikasi juga secara keseluruhan mengembangkannya. Teknik komunikasi (terapan) juga mencakup teknik bertanya. Komunikasi publik (public speaking) yang pernah didominasi oleh orasi, sekarang menjadi lebih dialogis dengan berkembangnya dialog publik, debat publik, dan talk show para pejabat publik dan politisi. Komunikasi pembangunan yang filosofinya komunikasi multi arah apalagi, juga mengembangkan teknik-teknik diskusi yang memerlukan fasilitasi. Ilmu kehumasan (PR) juga mengembangkan materi tentang komunikasi baik interpersonal maupun dengan media massa.

Ketiga, dari bidang ilmu metodologi penelitian. Saya mempelajari metodologi penelitian sejak di kampus maupun setelah di LSM. Kalau di kampus saya belajar teknik wawancara dalam kerangka survey penelitian sosial, di LSM saya belajar penelitian aksi dalam kerangka pendampingan masyarakat. Semua metodologi ini memuat bab tentang mengembangkan pertanyaan. Salah satu buku yang populer di saat saya masih kuliah adalah “Filsafat Ilmu” yang ditulis Yuyun Suriasumantri yang mengatakan bahwa pengembangan keilmuan itu berasal dari sifat manusia untuk bertanya atau mempertanyakan sesuatu. Jadi, ilmu pengetahuan ini akan berkembang dengan kemampuan kita bertanya secara cerdas.  Istilah di kalangan LSM adalah pertanyaan diskusi atau pertanyaan kunci untuk mengembangkan diskusi atau pertanyaan reflektif. Sedangkan pengetahuan yang dihimpun melalui kerangka penelitian aksi adalah pengetahuan atau kebijakan lokal.

Keempat, dari referensi-referensi di dunia pelatihan dan kefasilitatoran. Saya lebih banyak merefer ke dunia pelatihan LSM. Ilmu yang paling banyak jadi referensi di lembaga saya adalah ilmu pendidikan non formal (PNF) dan metode pendidikan orang dewasa (POD). Jadi sumber-sumber belajar inilah yang mendominasi referensi saya.

Kalangan LSM menyebut programnya sebagai pembelajaran, itu sebabnya dikembangkan teknik-teknik fasilitasi. Format kegiatannya bisa berupa pendampingan masyarakat, kegiatan teknis di lapangan (misal kebun percontohan), pelatihan klasikal, pelatihan lapangan, kunjungan silang, magang, pengembangan kelompok dan jaringan petani, dan sebagainya. Teknik-teknik fasilitasi jelas memuat kemampuan mengembangkan diskusi. Bertanya dan mendengarkan adalah keterampilan penting seorang fasilitator masyarakat. Itulah yang kemudian menyebabkan materi ini juga masuk dalam kurikulum pelatihan teknik fasilitasi untuk para petugas lapangan atau fasilitator masyarakat.

Pelatihan yang paling maju pengembangan metodologinya adalahyang dilakukan  kalangan konsultan, pelatih dan fasilitator dari dunia bisnis. Karena mereka lebih profesional dan fokus dalam pengembangan layanan pelatihan. Pelatihan manajemen yang populer yaitu outbound training yang mengembangkan pelatihan kepemimpinan, kerjasama tim, motivasi dan kreativitas melalui proses pengalaman, refleksi dan pemaknaan (mengkonsepkan) dengan kegiatan di luar ruangan (outdoor). Sekarang ini, juga populer format lokakarya tentang materi motivasi yang dikemas secara entertaining seperti penampilan Mario Teguh. Banyak sekali para motivator demikian belakangan ini yang mempublish dirinya sendiri dengan bagus baik melalui buku maupun web.

Kelima, mendengarkan juga menjadi  salah satu topik yang dikembangkan oleh bidang ilmu psikologi. Bacaan populer tentang pengembangan diri dan motivasi, salah satunya adalah kemampuan untuk melakukan hubungan dan kerjasama tim yang baik. Komunikasi interpersonal yang sehat.  Memang pelatihan manajemen dan psikologi sangat erat hubungannya. Dalam dunia kerjapun, banyak kalangan psikologi yang menjadi orang HRD.

Keenam, seharusnya menjadi yang pertama, saya belajar dari pelajaran Bahasa Indonesia tentu saja. Ada pelajaran membaca, menulis, dan berbicara di depan kelas. Saya masih ingat bahwa saya sangat demam panggung kalau kebagian bicara di depan kelas untuk membacakan sajak atau hasil karangan.  Sayangnya kurang ada tradisi diskusi di sekolah (SD, SMP, dan SMA).  Seharusnya ada juga pelajaran bertanya dan mendengarkan melalui praktek-praktek diskusi ini. 

Ketujuh, sumber yang kurang saya jadikan rujukan adalah agama (Islam maupun Kristen) yang sebenarnya mengembangkan teknik-teknik bertanya untuk pengkajian agama dan dialog. Terutama bila ada topik-topik yang masih sedang dicari penafsirannya. Waah, cari saja web yang mengembangkan isu ini, dengan mengetik kata kunci “bertanya menurut Islam” atau “…bertanya Islam menjawab” di google, akan ketemu.

***

Karena saya sudah berkecimpung menjadi fasilitator sejak tahun 1994, maka sumber belajar nomor empat dan lima yang paling banyak mempengaruhi saya. Menjadi fasilitator selama 17 tahun bukan berarti saya bisa memberi  ilmu fasilitasi atau melatih fasilitator secara baik. Ketika harus mengembangkan topik teknik bertanya dalam pelatihan untuk fasilitator, saya mulai mengumpulkan bahannya dari sumber apa saja. Baik dari modul pelatihan, teknik komunikasi, pendidikan orang dewasa, teknik wawancara (metodologi penelitian sosial kualitatif), psikologi populer, ilmu komunikasi, ilmu manajemen organisasi.

Rupanya sama juga dengan yang dilakukan oleh para pelatih dan fasilitator dari kalangan pelatihan manajemen dan pengembangan organisasi (bisnis), mereka coba mengumpulkan materi teknik bertanya atau mendengarkan sebagai sebuah buku. Salah satu sumber yang paling tekun mengembangkan topik ini adalah pelatih dan fasilitator dari Amerika, Dorothy Leeds (klik webnya).

Wah, satu topik ini saja bisa menjadi kurikulum pelatihan sendiri ya. Padahal kalau saya sih cuma jadi satu sesi belajar selama 120 menit saja dalam pelatihan fasilitasi yang saya buat. Selebihnya, latih sendiri di lapangan. Begitu kilah saya.

Berhubung buku-bukunya Dorothy Leeds harus dibeli dengan harga dollar ya enggak kebeli deh. Sedangkan beberapa buku juga dapat ditemukan di Toko Buku Gramedia.  Dalam buku yang berjudul teknik bertanya biasanya ada bab tentang teknik mendengarkan. Tapi ada juga buku sendiri tentang mendengarkan. Saya mengkoleksi beberapa buku yang bisa dibeli di toko.

 

Yang paling kiri ditulis oleh konsultan manajemen, yang kedua dari kiri dan paling kanan dari kalangan komunikasi, yang tengah ditulis oleh seorang ahli bahasa (penyunting dan penerjemah) dan berlatar belakang pendidikan bahasa, yang kedua dari kanan ditulis sebagai bacaan psikologi populer.  Sumber referensi lain yang saya miliki adalah modul fasilitasi dan metodologi penelitian yang memuat teknik bertanya sebagai bab (terutama tentang wawancara semi terstruktur).

Berdasarkan pengalaman dan sumber-sumber rujukan, sayamengembangkan materi pelatihan teknik bertanya dengan cara membuat contoh pertanyaan dan penugasan memberi pemaknaan terhadap pertanyaan serta latihan/praktek membuat pertanyaan dan memperkirakan jawaban.

Seorang fasilitator yang handal harus punya kepekaan dan empati karena setiap pertanyaan berada dalam suatu situasi dan konteks tertentu. Wawasan terhadap konteks sosial-budaya-politik diperlukan untuk bisa merumuskan pertanyaan yang penting dan memahami jawaban.

Misalnyabegini:  

  • Penanya: Bini lo diganggu sama cowok tetangga, apa sikap atau tindakan lo?
  • Jawaban seorang tak sabaran: Gue tempeleng tu orang yang ganggu bini gua…
  • Jawaban seorang penyabar ditunda dulu dengan balik bertanya:  Itu cowok tetangga, ABRI atow polisi bukan?

Halahhhh, kalau ABRI atow polisi emangnya kenapa????

***

Pada tulisan berikut saya akan memperkenalkan tentang Appreciative Inquiry, sebuah metode yang dikenal dengan formula 4D (Discovery, Dream, Design, Destiny). Sesuai namanya metode ini digunakan dalam lokakarya untuk  memahami masalah secara positif dan menghargai potensi/kekuatan (appreciative) yang dimiliki. AI dikembangkan dengan seni bertanya (inquiry) untuk membangun gagasan (impian) perubahan ke depan. Sebuah metode yang diterapkan agar organisasi atau kelompok membangun impian dan menggerakkan aksi bersama berdasarkanuntuk mengubah masa depan jadi lebih baik.

Tulisan tentang “Teknik Bertanya” masih bersambung, kalau begitu.

***

3 responses »

  1. mbak, bisa kirim alamat emeilnya. saya senang dengan tulisan mbak. saya mahasiswa penyuluhan pembangunan, coor kompetensi saya adalah pada bidang pengembangan masyarakat. saya ingin belajar best practice dari mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s