Teknik Mendengarkan

Standar

Teknik bertanya dan teknik mendengarkan merupakan keterampilan penting bagi seorang fasilitator. Bertanya secara baik akan memperoleh tanggapan, jawaban, dan diskusi yang baik. Namun, informasi dan pengetahuan yang tertumpah harus disimak atau didengarkan dengan baik pula.

Mendengar itu pekerjaan fisik (telinga kita) sedangkan mendengarkan itu lebih kepada pekerjaan pikiran yang secara sadar melakukan kegiatan menyimak untuk memaknai dan mensikapi sesuatu yang didengarnya.

Sebagai fasilitator pemberdayaan, mendengarkan adalah hal penting karena “kita” (orang luar)  harus melihat masalah, potensi dan kekuatan dari kacamata masyarakat yang didampingi.

Berikut ini adalah contoh sesi “teknik mendengarkan” pada pelatihan fasilitator masyarakat. Keterampilan mendengarkan secara baik itu penting. Tapi sikap mendengar ketimbang berbicara, itu lebih fundamental.

***

Judul Sesi: Teknik Mendengarkan

Tujuan Belajar:

  • Peserta mempraktekkan teknik mendengarkan yang merupakan satu kesatuan dengan teknik bertanya.
  • Peserta dapat mempraktekkan cara membuat catatan resume sebuah proses diskusi secara tepat yang terkait dengan kapasitas mendengarkan.

Metode belajar: Permainan, praktek, review, diskusi, pemaparan.

Media Bantu:

  • Lembar latihan “mendengarkan”
  • Panduan praktek memfasilitasi (dan membuat catatan).
  • PPT  Teknik Mendengarkan
  • PPT Teknik Visualisasi Catatan Saat Memfasilitasi: VIPP, mind-map, future search conference (FSC), PRA, metaplan.
  • Panduan permainan “mendengarkan”.

Alat dan Bahan:

  • LCD projector, laptop, layar/dinding.
  • Whiteboard, whiteboard marker.

Durasi waktu: 90 – 120 menit.           

***

Proses Belajar:

1. Mendengarkan dan memaknai sebuah kalimat (15-30 menit)

  • Pelatih menggunakan  sebuah daftar kalimat untuk dibacakan satu per satu. Setiap kalimat selesai dibacakan, pelatih melontarkan pertanyaan: Apa maksud kalimat tersebut? Lakukan pembahasan bersama.
  • Setelah semua kalimat dibacakan dan dibahas, pelatih menampilkan seluruh kalimat itu kembali dengan menggunakan PPT dan direview bersama, misalnya:
    • Kata “habisi” dan “ganyang” artinya mengalahkan dalam sebuah pertandingan.
    • “Semua bisa diatur” bisa berarti “saya akan membereskan/mengerjakan” atau “saya akan mengerjakan kalau ada uang lelahnya” atau lainnya.
    • Dan seterusnya.
  • Pelatih menggunakan PPT untuk memberikan materi input tentang: Pengertian mendengarkan, perbedaannya dengan mendengar, teknik mengembangkan pertanyaan untuk mendengarkan, kesalahan-kesalahan dalam mendengarkan.
CONTOH-CONTOH KALIMAT

  • “Akan saya ‘habisi’ dia…” (kata Elias Pical tentang lawan tandingnya).
  • “Ganyang Malaysia….” (teriak suporter Timnas Sepakbola Indonesia)
  • “Pokoknya semua bisa diatur”, kata seorang pegawai di bagian perijinan….
  • “Masa kamu lebih percaya sama omongan orang…” kata seorang suami kepada istinya yang menanyakan gosip perselingkuhan suaminya.

 2.      Mendengarkan dan mencatat (60-75 menit)

Pelatih mengkondisikan peserta yang akan melakukan praktek/simulasi fasilitasi dengan cara sebagai berikut: 

  • Pelatih memberikan satu topik dan tujuan diskusi untuk dipraktekan/disimulasikan seorang peserta (sebagai fasilitator).  Fasilitator ini harus memandu proses brainstorming dengan mempergunakan media metaplan sebagai alat bantu mencatat.
  • Sebelum melakukan praktek, pelatih mengajak peserta memahami apa dan bagaimana teknik brainstorming dan metaplan.
  • Setelah praktek, pelatih mengajak peserta mereview kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi dalam membuat catatan resume diskusi dan tips-tips untuk mengatasinya.
  • Pelatih memberikan materi input tentang: Membuat catatan selama mendengarkan, tujuan dan manfaatnya, teknik, tips, dan contoh-contoh cara kerja metode yang mengembangkan visualisasi untuk merangkum informasi yang dibahas.

3.      Games  mendengarkan cerita dan mengingat (15 menit)

Pelatih mengajak peserta melakukan permainan mendengarkan dengan cara sebagai berikut:

  • Peserta dibagi ke dalam kelompok (4-5 orang) untuk mendengarkan sebuah cerita yang dibacakan pelatih (2-3 paragraf pendek).
  • Setelah itu, masing-masing kelompok menuliskan jawaban pertanyaan yang diajukan pelatih berdasar cerita tadi.
  • Kelompok yang jawabannya paling banyak benar, menjadi pemenang dan mendapat hadiah dari pelatih.

Contoh lembar cerita dan pertanyaannya dapat di lihat di sini.

***

Daftar Istilah:

  • VIPP (visualisasion in participatory programmes): merupakan metode pembelajaran/diskusi yang divisualkan dalam berbagai bentuk kartu.
  • PRA (participatory rural appraisal): merupakan metode kajian/diskusi yang divisualkan dalam berbagai bentuk gambar (gambar desa, diagram venn, kalender musim, gambar kebun, bagan transek, dan sebagainya).
  • Metaplan: kartu-kartu berukuran 10×20 cm yang biasa digunakan dalam curah pendapat (brainstorming) atau diskusi.
  • Mind-map: teknik visualisasi sebuah informasi yang dimulai dari judul atau tema di tengah dan uraiannya menjadi topik-topik berupa sulur atau aris-garis yang keluar dari lingkaran tengah, dan setiap garis bisa memiliki cabang dan anak-anak cabang sebanyak yang diperlukan. Setiap garis diberi kata kunci dan simbol yang mewakili kata kunci.
  • FSC (future search conference): merupakan sebuah metode yang setiap sesinya dirancang untuk bisa merekam secara visual hasil pembahasannya. Lihat di tulisan ini.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s