GENDER sebuah istilah yang sulit dikomunikasikan

Standar

Pertama kali mengenal istilah gender atau jender pada tahun 1994 ketika sedang menyunting buku PRA “Berbuat Bersama Berperan Setara”.

Senang juga mendapatkan istilah untuk menamakan berbagai hal yang secara pribadi saya alami, baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Apa tuh gender?

Perempuan itu begini begitu, menurut nilai-nilai sosial-budaya dan agama di suatu masyarakat. Sedangkan lelaki itu begitu begini. Berarti, gender itu jenis kelamin sosial ya. Itu istilah yang saya suka.

Ketika nilai-nilai gender menjadikan perempuan didiskriminasikan, itu menjadi ketidakadilan gender. Ketika perempuan menjadi manusia kelas dua, itu menjadi ketimpangan gender.

Oooooooh, itu gender toh istilahnya….

***

Sejak saat itu, saya bisa memperhatikan di sekeliling saya tentang masalah gender, ketimpangan gender, ketidakadilan gender. Nyata adanya. Bukan teori dari antah berantah.

Seorang istri bangun sangat pagi untuk menyiapkan sarapan, mengurus anak-anak yang akan berangkat sekolah, sambil bersiap-siap untuk juga pergi ke kantor, tapi harus menyiapkan pakaian dan sepatu suaminya yang begitu bangun masih sempat duduk merokok. Bahkan sang suami berteriak karena kopinya belum terhidang di meja.

Tapi, saya tidak dapat begitu saja menjadikan gender sebagai topik pembicaraan di keluarga atau lingkungan saya. Kehidupan nyata bukanlah ruang pelatihan atau diskusi.

Wacana dan perdebatan tidak serta-merta bisa dilontarkan dalam peristiwa-peristiwa sesungguhnya.

Kecuali Anda mau menjadi aktivis gender yang kehadiran dan ucapannya selalu “menakutkan” orang lain. Mengadili setiap kesalahan orang yang jadi melongo karena “bukan bunda salah mengandung” dilahirkan di masyarakat patriarkis dan seksist begini.

***

Bagaimana sih mengkomunikasikan Gender dengan masyarakat? Itu pertanyaan dari pendamping atau fasilitator masyarakat setelah mengalami hal pahit menghadapi kemarahan para bapak atau tokoh yang merasa terganggu ketika istrinya mulai menggunakan kata “gender” dalam percakapan bernada menggugat.

Wah.

“Kamu kan sudah gender… Sana pergi tangkap kambing sendiri…” kata seorang suami di Sumba Barat, kepada istrinya yang ikut kelompok belajar perempuan. Kesal. Kambing itu lepas dari kandang dan menjadi tugas istri untuk mengurusnya. Ternak besar tugas Bapak, ternak kecil, tugas Ibu.

“Kalau gender, berarti perempuan harus bisa panjat kelapa…” kata seorang Bapak, diikuti gelak tawa bersama. Suasana penuh canda di sebuah desa di TTU. Untung dalam suasana penuh canda dan kehangatan.

Gender, oh gender.

Kok bisa dibicarakan di balik gunung dan di lembah yang dalam di sana. Di tempat tanpa listrik. Tanpa ledeng. Tanpa TV. Dibawa siapakah gerangan? Fasilitator masyarakat. Pendamping.

***

Saya tidak menggunakan istilah gender saat isu ini saya hadapi. Pada kehidupan nyata saya sendiri. Di kota. Pusat kemajuan di P. Jawa.

Jangankan nun jauh di perdesaan. Di luar Jawa sana lagi. Di perkotaan pun, mana bisa menggunakan kata gender itu untuk mendiskusikan –apalagi mempermasalahkan- pembagian peran perempuan dan lelaki. Memperbaiki akan lebih baik.

Mempermasalahkan? Wah, bahaya.

Saya pun bisa membayangkan bagaimana tokoh masyarakat dan para suami menganggap wacana gender yang dibawa pulang istrinya ke rumah itu sebagai “ajaran sesat”.

Fasilitator masyarakat pun kena getahnya. Lariii…. lintang pukang, kena amuk.

***

Airmata seorang Bapak berlinang. Di pedalaman Kalimantan Tengah sana. Ini hanya sebuah pelatihan pemahaman konsep gender dan bagaimana menggunakannya dalam kerja pendampingan masyarakat.

“Mengapa, Pak?” Tanya saya.

“Teringat pada istri. Saya harap istri saya bisa memaafkan saya….” Katanya.

Betapa mendalamnya merasuk dalam benak pria ini, sesi pelatihan tentang Gender.

Saya pun termangu. Berdosakah saya, melukai hatinya?

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s