TEKNIK FASILITASI – Ilmunya Darimana?

Standar

Suatu hari seorang teman menelpon saya untuk melontarkan pertanyaan: “Teknik fasilitasi itu sumber ilmunya darimana?” Karena teman saya ini seorang dosen, saya menanyakan teknik fasilitasi untuk apa. Saya kira dia ingin merancang program belajar untuk mahasiswanya dengan cara-cara yang lebih fasilitatif ketimbang ceramah. Ternyata, beberapa materi kuliah teman saya ini tentang forum warga dan proses perencanaan partisipatif, dan dia bermaksud untuk memberikan materi itu dengan cara praktek atau simulasi. Itu sebabnya, teman saya ini juga membutuhkan referensi tentang teknik fasilitasi untuk dianjurkan kepada mahasiswanya.

Saya bilang ke teman saya untuk browsing dengan mengetik kata “decission making facilitation” atau “participatory decission making” atau “decision making processes” atau  “ facilitator’s guide to decission making processes”.  Apabila kita browsing kata-kata tersebut, akan muncul 2 wilayah yang mengembangkan proses fasilitasi pengambilan keputusan: lembaga bisnis/perusahaan dan pemerintah.

Karena teman saya dosen tentang perencanaan termasuk tata ruang kota yang mengembangkan proses fasilitasi partisipasi warga, saya anjurkan teman saya itu untuk menggunakan rujukan teknik partisipasi tentang pengambilan keputusan partisipatif (participatory decission making) yang berasal dari bidang studi kebijakan publik (salah satu topiknya perencanaan partisipatif, penganggaran partisipatif, konsultasi publik untuk penyusunan regulasi secara partisipatif), demokrasi deliberatif (termasuk di dalamnya mengenai pelibatan masyarakat atau civic engagement), tata pemerintahan daerah yang demokratis (democracy local governance), partisipasi warga  (civic participation, civic engagement), dan lainnya yang terkait.

***

Saya pernah menulis tentang “Teknik Bertanya: Sumber Ilmunya Darimana?”. Silakan baca di sini.

Sumber ilmu teknik fasilitasi yang saya peroleh juga tidak jauh berbeda dengan apa yang saya sebutkan dalam tulisan tersebut. Historis belajar saya adalah sebagai berikut:

Pelatihan kepemimpinan yang saya peroleh pada masa awal kuliah, diberikan oleh sebuah kelompok aktivis mahasiswa yang berasal dari Fakultas Psikologi. Permainan (games) yang banyak dipergunakan dalam pelatihan-pelatihan mahasiswa juga berasal dari kalangan psikologi dengan tema-tema membongkar persepsi, kerjasama tim, pencairan suasana, dan sebagainya.  Saya pernah mencoba masuk ke organisasi mahasiswa, tetapi karena model pendidikan dan pelatihannya “indoktrinasi” saya lebih memilih ikut kelompok diskusi mahasiswa saja.

Pembelajaran dan pengalaman dengan teknik fasilitasi sejak awal saya terjun ke bidang pelatihan LSM terutama saya peroleh dari senior-senior yang berlatar belakang pendidikan luar sekolah khususnya pendidikan masyarakat dengan konsep dan metodologi pendidikan orang dewasa (POD). Program yang menjadi konteks pelatihan ini adalah pengembangan masyarakat (community development) yang banyak mengadopsi teknik pelatihan partisipatif dan pembelajaran dengan POD sebagai teknik pendampingan masyarakat. Kritik terhadap teknik penyuluhan konvensional memunculkan konsep pelatihan lapangan dan teknik-teknik ujicoba teknologi oleh petani atau masyarakat sendiri. Teknik-teknik pendampingan ini juga diperkaya dengan metode partisipatif lain, seperti participatory rural appraisal dan participatory action research. Kalangan yang mengembangkan metodologi seperti ini  berasal dari akademisi dan aktivist, sehingga fasilitasi jenis ini dikembangkan baik oleh peneliti maupun LSM.

Saya pernah menuliskan tentang PRA dan PAR di sini.

Sedangkan mengenai program training berbasis pengembangan masyarakat saya tulis di sini.

Sementara, buku-buku sumber tentang pelatihan yang paling banyak saya gunakan –karena memang ini yang paling banyak bisa didapatkan- berasal dari pelatihan manajemen. Pelatihan-pelatihan di kalangan manajemen sering disebut “outbond” dengan tema-tema tentang “pelatihan kepemimpinan” (leadership training), pelatihan kerjasama tim, pelatihan motivasi, dan sebagainya. Sangat kental dengan nuansa pelatihan dari kalangan psikologi.

Bekerja di dalam program pengembangan masyarakat (community development) tentunya banyak berkaitan dengan perdesaan, meskipun persoalan kemiskinan juga ada di perkotaan. Berbicara tentang desa tentunya tak terpisahkan dengan isu sumber daya alam dan lingkungan. Sumber daya alam merupakan wilayah konflik, meskipun saya tidak pernah menjadi fasilitator pengelolaan konflik namun tema fasilitasi ini saya alami sekitar tahun 2000-an. Saya sempat berkenalan dengan kelompok fasilitator “khusus” yang disebut sebagai “fasilitator-mediator” dan bersama teman-teman menyelenggarakan pelatihan dan lokakarya tentang pengelolaan sengketa sumber daya alam.

Kawasan Rinjani, Lombok, NTB, merupakan tempat saya mengalami kegiatan tentang fasilitasi pengelolaan sengketa ini.  Sedangkan Kawasan Riung, Flores, NTT, saya terlibat dalam pendokumentasian pengalamannya.

***

Setelah bergulirnya otonomi daerah- topik-topik mengenai partisipasi dan fasilitasi proses partisipatif di wilayah pembuatan kebijakan publik menjadi trend baru karena terbitnya berbagai regulasi:

Regulasi tentang pemerintahan daerah yang dikenal dengan sebutan UU otonomi daerah, antara lain memuat tentang pembangunan partisipatif sehinggadibarengi dengan lahirnya UU tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional: UU 25 2004 SPPN.

Diikuti dengan regulasi tentang perencanaan pembangunan partisipatif  (musrenbang) di tingkat daerah: PP 08 Th 2008 Perencanaan Daerah dan PP 08 Th 2008 penjelasan. Serta di tingkat desa: PP 72 2005 Desa dan Permendagri 66 2007

Juga terbitnya regulasi tentang tata cara penyusunan regulasi yang juga harus dilakukan dengan proses dan mekanisme partisipatif:  UU 10 2004.

Teknik fasilitasi jenis ini mulai saya tekuni ketika menjadi salah satu pengurus jaringan pada tahun 2006 sampai sekarang. Salah satunya berupa buku tentang Konsultasi Publik yang ditulis bersama teman-teman. Konsultasi Publik merupakan sebuah proses fasilitasi dalam proses penyusunan kebijakan publik (perencanaan, penganggaran, penyusunan program pembangunan, penyusunan regulasi, penyusunan program legislasi, dsb.).

Tulisan saya tentang Konsultasi Publik dapat dibaca di sini. 

***

Buku berikutini mungkin bisa memperlihatkan keberagaman latar belakang para fasilitator dari berbagai negara yang tulisannya terhimpun di dalamnya. http://www.amazon.com/IAF-Handbook-Group-Facilitation-International

Ada yang berasal dari peneliti kebijakan, ada yang berlatar belakang psikologi, komunikasi, dan pendidikan. Ada yang bekerja untuk pemerintah maupun non-pemerintah (kalangan bisnis, pembangunan dan pengembangan masyarakat), ada yang merupakan konsultan manajemen, fasilitator pengembangan organisasi, fasilitator perencanaan strategis, pelatih dan fasilitator di bidang pembangunan, dan sebagainya. Apabila melihat web dari organisasi yang menerbitkan buku tersebut, beberapa topik fasilitasi yang ada dalam menu antara lain mengenai: pengambilan keputusan strategis, solusi kolaboratif, pengembangan konsensus, pengelolaan konflik, fasilitasi kelompok.

Lihat  di: http://www.exedes.com

Perkembangan teknologi juga membentuk sebuah group fasilitator berbasis internet (web conferencing, virtual meeting). Ini pun membutuhkan fasilitasi atau peran fasilitator.

Lihat di: http://www.facilitate.com

***

Ilmu sebagai fasilitator tentunya berkembang terus dan semakin kaya. Wilayah pengembangannya beragam.

Selama ini, saya selalu berada dalam wilayah pengembangan masyarakat atau pendidikan masyarakat. Jadi, ketika saya memasuki wilayah fasilitasi pengambilan keputusan, saya menempatkan posisi di sisi fasilitasi proses pelibatan masyarakat.

Fasilitasi pengambilan keputusan yang bersifat teknokratis dengan didukung pengkajian dan data statistik yang lebih wilayah “expert”, biarlah menjadi wilayah fasilitasi orang lain.  Biasanya ini peran kalangan akademisi yang gelarnya hebat-hebat.

Sayangnya, akademisi yang expert dalam substansi kebijakan dan proses teknokratis sekaligus fasilitator itu masih jarang….

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s