PRA – bukan sekedar metode/teknik

Standar

Salah satu ciri metode Participatory Rural Appraisal (PRA) adalah  memiliki kumpulan teknik atau alat kajian yang bersifat visual (gambar).

Tulisan tentang PRA, dapat dibaca di sinidi sini dan di sini.

Gambar visual dari teknik/alat PRA ini nampaknya sederhana, dibuat secara manual bersama masyarakat, namun memiliki sesuatu yang mengagumkan berdasarkan.Gambar visual itu bisa memotret sebuah sistem yang kecil maupun cukup besar sehingga dapat menghasilkan sebuah diskusi yang “powerfull”.

Alur sejarah bisa menjadi sebuah “story telling” tentang keberadaan sebuah komunitas, keberagaman etnis dan kelompok atau sebaliknya homogenitasnya, nilai-nilai hidup tentang alam, kehidupan sosial, dan agama/kepercayaan.  Masuknya nilai-nilai baru ke dalam masyarakat dan tanggapan mereka.  Kepercayaan diri atau sebaliknya runtuhnya kepercayaan diri masyarakat, pengaruh atau runtuhnya pengaruh kepemimpinan lokal.

Semua itu seringkali menjadi diskusi yang mengharu biru buat saya.

Sketsa/gambar desa menggambarkan keberadaan komunitas itu. Apa yang mereka miliki dari masa lalu. Apa yang mereka tidak miliki dan bercokol di wilayah mereka tanpa diundang, perusahaan pemilik HPH, misalnya.  Sebuah LSM Internasional memiliki program pengelolaan konflik manusia dengan binatang yang mengepung perkampungan sehingga melakukan pemindahan hewan ke tempat yang lebih aman, terutama gajah.

Saya sungguh takjub ketika masyarakat menggambarkan sketsa/gambar desa dan wilayah hutannya, termasuk lokasi-lokasi konflik tersebut: gajah, harimau, dan beruang. Sedangkan babi hutan dan kera lebih dianggap hewan yang menjadi hama.

Ada hal-hal yang disembunyikan masyarakat kepada saya bila melakukan diskusi dengan teknik/alat PRA. Tapi itu wajar, saya hanya seorang “tamu” yang hadir sebentar. Kawan-kawan pendamping masyarakat dari LSM setempat lah yang akan bersama mereka lebih lama.

Kepercayaan itu perlu waktu dan hanya tumbuh kepada seorang fasilitator yang tulus bekerja untuk masyarakat .

Ketika PRA menjadi trend metodologi pendekatan program, teknik/alat ini seringkali digunakan secara instan. Tidak memberikan makna yang berarti bagi fasilitator itu sendiri maupun masyarakat. Hanya sekedar melakukan tugas menggali data/informasi atas tugas dari sebuah program.

Teknik/alat PRA hanya akan menjadi “powerfull” bila digunakan seorang yang tepat. Seorang yang mencintai pekerjaan kemasyarakatan. Seorang yang memberikan hatinya untuk menjadi fasilitator masyarakat.

***

Terdapat banyak teknik/alat PRA, dan ini bisa dikembangkan dan dimodifikasi oleh fasilitator masyarakat agar memperoleh teknik/alat diskusi yang tepat dengan kebutuhannya dalam bekerja.

Bagi yang baru berkenalan dengan teknik/alat PRA, daftar berikut ini bisa menjadi awal untuk mulai mencoba dan menerapkannya.  Supaya mudah mengingat dan memahami teknik/alat PRA, pelajari dengan cara berikut:

  • Perhatikan gambar visual teknik/alat PRA tersebut dan apa saja muatan informasi di dalamnya.
  • Perhatikan ciri dari teknik/alat PRA tersebut menurut pengelompokkan yang dijelaskan di bawah ini.
  • Pelajari cara analisis informasi yang terdapat dalam teknik/alat PRA tersebut seperti apa: apakah deskripsi kejadian, apakah kronologi kejadian, apakah pemberian urutan (skor) berdasarkan kriteria tertentu. Lihat tabel mengenai cara analisis informasi dengan metode PRA di bawah.
  • Pelajari cara melakukan diskusi dengan menggunakan teknik/alat PRA. Proses diskusi PRA diibaratkan sebagai piramida terbalik, semakin fokus, semakin mendalam, tapi tak perlu dipaksakan batasannya. Proses ini mengalir saja bersama masyarakat, sampai masyarakat melakukan penemuan-penemuan mengenai siapa dirinya dan apa tanggapannya.
  • Kembangkan tujuan, ruang lingkup informasi, dan modifikasi teknik yang dirasakan lebih cocok untuk kebutuhan diskusi Anda.

Silakan baca lebih lanjut beberapa materi berikut ini:

6-Metode-teknik PRA

7-Analisa Informasi PRA

8-Teknik Fasilitasi PRA

***

Karena teknik/alat PRA bisa menjadi daftar yang banyak dan bertambah terus, kita bisa membuat pengelompokkan teknik/alat PRA tersebut supaya mudah mengingatnya. Salah satu cara mengelompokkannya adalah sebagai berikut.

1. Kelompok metode/teknik yang memiliki ciri “waktu” (when/kapan):

  • Alur Sejarah (History Line)
  • Kalender Musim (Seasonal Calendar)
  • Kecenderungan dan Perubahan (Trend and Change)
  • Jadwal Sehari  (Daily Schedule)

2. Kelompok metode/teknik yang memiliki ciri “tempat/ruang” (where/dimana):

  • Sketsa Peta Wilayah (Desa)
  • Bagan Transek
  • Sketsa Kebun

3. Kelompok metode/teknik yang memiliki ciri “siapa pelakunya” (who):

  • Diagram Venn: Pelaku lembaga dan kepemimpinan lokal
  • Analisis gender: Pelaku L, P, L/P
    • Matriks Analisis Keputusan: Siapa pembuat keputusan di keluarga
    • Jadwal Sehari: Siapa melakukan tugas apa
    • Sketsa Peta Desa:  Siapa memiliki akses dan kontrol SDA
    • Diagram Venn: Siapa berpartisipasi di lembaga publik

4. Kelompok metode/teknik yang memiliki ciri “apa saja” (what):

  • Analisis Matapencaharian
  • Pengumpulan dan Pengelompokkan Masalah

5. Kelompok metode/teknik yang memiliki ciri “proses/alur” (how/bagaimana):

  • Bagan Alur Pemasaran Hasil Pertanian
  • Bagan Alur Usaha Pertanian

6. Kelompok metode/teknik yang memiliki ciri “sebab -akibat” (why/mengapa):

  • Matriks Ranking (Skoring) Komoditi Unggulan
  • Bagan Alur Sebab-akibat Masalah

7. Analisis masalah (bisa diganti dengan analisis potensi) digunakan teknik:

  • Pengumpulan dan Pengelompokkan Masalah
  • Analisis Sebab-akibat Masalah
  • Matriks Ranking (Skoring) Masalah

***

Seorang fasilitator masyarakat yang menggunakan teknik/alat PRA perlu mempercayai bahwa dirinya tidak lebih pintar dari masyarakat hanya karena punya ijasah sekolah. Apalagi hanya karena dirinya belajar dari buku-buku, sedangkan masyarakat jarang membaca atau tidak pernah membaca buku, bahkan buta huruf.

Banyak masyarakat yang bisa membaca tapi bukan dengan tujuan belajar.  Bisa membaca surat atau SMS. Tapi tradisi belajar masyarakat biasanya adalah lisan dan magang. Ilmu masyarakat ada dalam praktek di lapangan. Pertukaran pengetahuan masyarakat terjadi dalam keluarga, di warung kopi, tempat ibadah, atau tempat berkumpul lain.

Teknik/alat PRA mengajak masyarakat melakukan pembelajaran dengan menggunakan sesuatu yang digambarkan/dituliskan/disimbolkan di atas sebuah media (kertas, papan tulis, tanah). Karena itu teknik/alat tersebut hanyalah sarana agar diskusi lisan yang biasanya ngalor-ngidul punya topik tertentu.

Tugas fasilitator adalah menggali kapasitas belajar masyarakat. Berlatih berdiskusi secara baik dengan cara analisis yang biasa saja dilakukan kita setiap hari. Cara analisis dengan metode/teknik PRA adalah sebagai berikut:

CARA ANALISA

CONTOH – CONTOH

Memberi nama (naming) sesuatu

—Memberi nama untuk setiap langkah/kegiatan mengelola kebun, misalnya istilah lokal. Contoh di Timor: pembukaan lahan (tafek nono hau ane), membakar lahan (polo nopo), upacara minta hujan (tsifo nopo), penanaman, pembersihan lahan (tofa), panen, pesta panen (thai niki bolaif).
—Memberi nama untuk suatu benda. Misalnya: lopo (balai pertemuan); dsb.

Mendaftarkan (listing) atau mengumpulkan (collecting)

—Mendaftarkan jenis-jenis komoditi yang dikembangkan petani;

—Mendaftarkan jenis-jenis kegiatan pengelolaan kebun;

—Mendaftarkan masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan usaha masyarakat;

—Mendaftarkan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat; dsb.

Memberi nilai (scoring)

—Memberi nilai 1 – 10 untuk membandingkan keunggulan sejumlah komiditi (matriks ranking komoditi);

—Memberi nilai 1 – 10 untuk menilai bobot sejumlah masalah yang dirasakan masyarakat (matriks prioritas masalah);

—Memberi nilai 1 – 10 untuk membandingkan jumlah kepemilikan lahan/ternak/kekayaan (wealth ranking); dsb.

Mengurutkan (sequencing)

—Mengurutkan komoditi berdasarkan nilai keunggulannya;

—Mengurutkan kegiatan berdasarkan tahap-tahapnya;

—Mengurutkan kejadian berdasarkan kronologi waktu; dsb.

Membandingkan (comparing)

—Membandingkan keunggulan sejumlah komoditi berdasarkan sejumlah kriteria;

—Membandingkan beban kerja perempuan dengan laki-laki;

—Membandingkan pendapatan dengan pengeluaran; dsb.

Menghitung (counting) dan mengukur

—Menghitung jumlah ternak, luas kebun;

—Menghitung jumlah/berat hasil produksi kebun (bisa menggunakan ukuran lokal);

—Menghitung jumlah pendapatan; dsb.

Mengkaitkan/ menghubungkan (linking/relating)

—Setelah mengumpulkan masalah-masalah, kemudian menganalisa hubungan sebab-akibat masalah;

—Menghubungkan antara kegiatan atau keadaan dengan musim;

—Menghubungkan masa lalu, masa kini, dengan masa depan;

—Mengkaitkan antara tingkat produktivitas kebun dengan faktor-faktor lain (pola tanam, teknologi); dsb.

Memperkirakan (estimating)

—Memperkirakan tingkat produksi dari tahun ke tahun (menggunakan skore 1 – 10);

—Memperkirakan kecenderungan perubahan ke depan;

—Memperkirakan penggolongan kekayaan masyarakat dengan kriteria-kriteria tertentu (misalnya: kepemilikan lahan dan ternak, jenis rumah, dsb.); dsb.

Memilih atau menseleksi (sorting)

—Memberi nilai untuk memilih komoditi unggulan;

—Membandingkan sejumlah komoditi dengan sejumlah kriteria penilaian untuk memilih komoditi unggulan;

—Memilih prioritas masalah untuk dijadikan kegiatan; dsb.

Menceritakan (telling) atau menggambarkan (describing)

—Menceritakan kejadian-kejadian, menceritakan pengalaman;

—Menggambarkan suatu permasalahan;

—Menggambarkan kondisi sumberdaya alam di suatu wilayah;

—Menggambarkan perekonomian desa; dsb.

Membuat diagram (diagraming)

—Mengurutkan kegiatan/kejadian berdasarkan tahap-tahapnya menjadi alur proses (misal: bagan alur produksi-pemasaran);

—Menggambarkan pola hubungan keterkaitan (misal: diagram kelembagaan, bagan sistem usaha pertanian, pohon masalah);

—Membandingkan jumlah/volume berbagai kegiatan/keadaan (diagram batang, diagram kue, dsb.) dsb.

Membuat model (modelling)

—Menggambar desa/kebun, atau membuat maket (model 3 dimensi) desa/kebun; dsb.

***

Berdiskusi dengan masyarakat selalu kekurangan waktu. Obrolan sering berkembang kemana-mana, tapi itulah nikmatnya kerja pendampingan masyarakat. Padahal masyarakat juga punya kesibukan dengan pekerjaannya.  Bila fasilitator masyarakat bekerja dan hidup di masyarakat (live-in), batasan waktu untuk melakukan diskusi disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Diskusi dilakukan dalam suasana informal. Secara umum, teknik fasilitasi kajian dengan alat PRA adalah sebagai berikut:

  • Membuka pertemuan dengan menyampaikan topik dan tujuan diskusi.
  • Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan pembuka untuk mengawali diskusi tentu saja yang relevan dengan topik dan tujuan diskusi.
  • Menjelaskan cara mengembangkan visualisasi (gambar) dan maksud dari penggunaan visualisasi (gambar). Menyepakati simbol-simbol gambar.
  • Mendampingi masyarakat untuk membuat visualisasi, membantu mereka mengembangkannya pada tahap awal, bertahap membiarkan mereka menyelesaikan visualisasi secara bersama (saling membantu).
  • Menampilkan visualisasi yang telah diselesaikan oleh masyarakat, dan memfasilitasi analisis keadaan yang ditampilkan dalam visualisasi (gambar) tersebut.  Fasilitator harus sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan penolong analisis yang bisa mengembangkan diskusi.
  • Secara bertahap, membiarkan masyarakat mengembangkan diskusi analisis mereka mengenai keadaan yang ada dalam visualisasi (gambar) tersebut.
  • Fasilitator menutup diskusi dengan meminta peserta untuk merumuskan pokok-pokok pelajaran yang diperoleh dalam diskusi.

***

Dokumentasi hasil PRA seringkali berupa laporan karena kegiatan PRA dianggap sebagai sebuah kegiatan (event) dalam batasan waktu tertentu. Ini karena PRA sebagai metode  pendekatan program digunakan sebagai metode/teknik manajemen program yang punya ketentuan dan batasan secara administrasi.

Sebagai sebuah metodologi dan prinsip, PRA dilakukan dalam proses pendampingan. Format pendokumentasian yang cocok adalah dalam bentuk catatan lapangan (field notes). Seorang pendamping masyarakat memiliki buku harian atau jurnal lapangan.

Tantangan tersendiri karena fasilitator masyarakat pun tidak memiliki kebiasaan menulis. Apalagi kalau berlatar belakang teknis (pertanian, teknologi poerdesaan), sering merasa menulis itu sebagai sesuatu yang sulit.

Ini juga tergantung dari tradisi belajar di organisasi asal dari fasilitator masyarakat itu. Mudah sekali memahami apakah sebuah organisasi memiliki tradisi belajar atau tidak, dan apakah lisan atau juga menulis.

***

Organisasi tanpa diskusi, jelas tidak memiliki tradisi pembelajaran. Organisasi tanpa produk tertulis pembelajaran dari para fasilitatornya dan hanya menghasilkan laporan-laporan administrasi program,  mencirikan organisasi yang tidak menggembleng pembelajaran agar jajaran personilnya punya sikap keberpihakan yang menjadi nilai organisasinya.  Jelas lembaga ini basis kerjanya hanya proyek.

Aktivis yang tidak banyak diskusi dan membaca untuk mencari alternatif pemahaman,  juga tidak menuliskan penjelajahannya untuk mengkoreksi dan memperbaiki,  jelas hanya menjalankan aktivisme.

Aktivisme itu semacam suatu kelinglungan.

PRA akan “powerfull” untuk lembaga dan aktivis yang menyukai pembelajaran, refleksi dan pencarian nilai. Penulisan merupakan alat (sarana) yang penting untuk melakukan refleksi dan koreksi.

Organisasi perlu memfasilitasi agar catatan lapangan itu menjadi hal yang bernilai di organisasinya. Hal yang penting. Dihargai sangat tinggi.

Pada era sekarang, format catatan lapangan bisa berupa blog individu.

***

One response »

  1. terimakasih untuk catatan tambahannya “sangat membangun” mengikatkan saya pribadi yang sedang bekerja sebagai fasilitator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s