PRA – penerapannya dalam daur program

Standar

Participatory Rural Appraisal (PRA) bisa diterapkan sebagai metodologi program, bisa juga menjadi operasionalisasi dari ideologi pembebasan, bisa juga hanya teknik/alat diskusi atau menggali informasi, dan bisa juga menjadi teknik/alat manajemen program. Saya lebih suka bila PRA itu bersifat ideologis dan lebih kuat ketimbang popularitas teknik/alatnya.

Namun, dalam kenyataannya PRA lebih populer sebagai teknik/alat pengelolaan program partisipatif. Ideologi pembebasan berubah menjadi pemberdayaan (empowerment) yang lebih “soft”.  Bukan tindakan dan perlawanan untuk mengubah struktur penindasan, tapi memberi keterampilan kerja dan meningkatkan modal, ketimbang memperkuat organisasi dan kepemimpinan lokal yang bisa memperbaiki posisi tawar petani terhadap kekuasaan.

Pendidikan kritis yang digunakan pengguna PRA menjadi pembelajaran yang lebih praktis, meningkatkan hasil kebun dengan memperbaiki teknologi, misalnya. Bukan belajar memahami struktur penindasan yang menyebabkan pemiskinan.

***

PRA di kalangan LSM pengembangan masyarakat dilakukan untuk mengembangkan daur program partisipatif. Daur program sering diibaratkan sebagai sebuah “spiral” ketimbang lingkaran. Spiral terdiri dari lingkaran-lingkaran yang terus berulang.

Penerapan PRA dalam daur program terdiri dari:

  • Tahap penjajakan kebutuhan (need assessment):  PRA untuk pengkajian partisipatif dengan menggunakan berbagai metode/tekniknya;
  • Tahap perencanaan: seringkali disebut PRA yang dikombinasikan dengan ZOPP, sebuah metode perencanaan yang populer di Indonesia, berasal dari GTZ Jerman.
  • Tahap pelaksanaan kegiatan: PRA dan metode/tekniknya digunakan sebagai pendekatan, prinsip maupun teknik/alat pendampingan masyarakat oleh para petugas lapangan (PL) atau fasilitator masyarakat (community facilitator).
  • Tahap monev: perkembangan atau penilaian pencapaian program dilakukan secara partisipatif dengan memodifikasi metode/tekniknya untuk menganalisis perubahan keadaan sebagai akibat dari kegiatan intervensi yang dilakukan.

***

Seluruh tahapan tersebut diibaratkan sebagai lingkaran, dan karena dilakukan berulang-ulang maka menjadi sebuah spiral. Biasanya LSM pengembangan masyarakat melakukan kegiatan yang disebut evaluasi dan perencanaan tahunan dengan memasukkan kegiatan analisis masalah (atau SWOT) sebagai bahan untuk menilai dan memperbaiki perkembangan program.

Itu sebabnya semua tahap di atas sesungguhnya terjadi berulang-ulang karena sebuah program intervensi dijalankan dalam jangka waktu beberapa tahun.

***

Pada evaluasi dampak adopsi PRA selama hampir 10 tahun di kalangan mitra jaringan Nusa Tenggara, tulisan-tulisan berikut ditulis untuk mengekstrasi bagaimana penerapan PRA dalam daur program pengembangan masyarakat.

9-PRA-penjajakan-kebutuhan

10-PRA-perencanaan-program

11-PRA-pendampingan masyarakat

12-PRA-monev

***

Rasanya sih perkembangan PRA di Indonesia memang sudah kadung begitu. PRA itu populer untuk mengembangkan proses program partisipatif. Instrumentalis.

Rasanya memang betul ucapan seorang aktivist Indonesia yang mengatakan: “PRA itu tidak punya ideologi…” Hmmm, padahal salah satu yang menginspirasi perkembangan PRA itu ideologi pembebasan Paulo Freire.

Kalau di negara lain seperti apa ya?

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s