Cerita Baik dan Sukses dari Lapangan

Standar

Sejak kecil kita belajar membaca, menulis dan berhitung di sekolah.  Membaca dan menulis dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Berhitung dalam pelajaran matematika. Sebenarnya, dalam materi Bahasa Indonesia ada juga pelajaran bertanya dan berbicara. Saya masih ingat di pelajaran Bahasa Indonesia sering ditugaskan mengarang cerita tentang liburan sekolah. Kemudian membacakan karangan di depan kelas. Tapi porsi belajar mengarang dan bercerita di depan kelas seperti itu kurang banyak dan semakin kurang di masa anak saya sekolah sekarang.  Namanya juga guru, lebih suka “menggurui”.

Karena seorang fasilitator itu bukan guru, tugasnya bukan “menggurui” tapi mengembangkan pertanyaan fasilitatif untuk belajar bersama petani atau masyarakat dampingan. Saya pernah menulis tentang “Teknik Bertanya: Sumber Ilmunya Darimana?”. Silakan baca di sini. https://riadjohani.wordpress.com/2012/01/12/teknik-bertanya-ilmunya-darimana/

Karena seorang yang banyak bertanya itu akan mendapatkan banyak tanggapan dan bahkan itu bisa merupakan sebuah proses komunikasi banyak arah, kemampuan mendengarkan (menyimak) juga perlu menjadi suatu latihan bagi para fasilitator. Saya juga memberi contoh tentang permainan “mendengarkan” (menyimak) di sini: https://riadjohani.wordpress.com/2012/01/18/permainan-mendengarkan-dan-mengingat/

Menuliskan catatan harian lapangan (field diary) atau catatan lapangan (field notes) atau jurnal lapangan, sebaiknya merupakan hal yang oleh lembaga dijadikan ketentuan “wajib” bagi para fasilitator masyarakat. Agar lama kelamaan menjadi kebiasaan atau keasyikan tersendiri. Menulis merupakan proses refleksi.

Refleksi merupakan perenungan nilai.

Seorang fasilitator masyarakat membutuhkan itu untuk bisa mengerti mengapa dirinya bekerja begitu keras di lapangan. Apalagi ketika menghadapi bermacam kesulitan, konflik, penolakan. Jawaban yang dicarinya hanya akan ada dalam wilayah nilai. Sebab kalau jawaban yang dicari adalah materi atau balas jasa, maka runtuhlah daya tahannya.

Saya pun meski bukan seorang fasilitator masyarakat, bekerja sebagai fasilitator di tingkat jaringan pembelajaran lembaga, mencari perenungan nilai ketika waktu berjalan terus, usia makin bertambah, dan orang-orang berjalan cepat meninggalkan kita untuk memperoleh pekerjaan yang merupakan peningkatan karier.

Saya akan tetap menjadi fasilitator “blusukan” sampai kapan pun.

***

Itu sebuah prolog yang bertele-tele tentang pentingnya seorang fasilitator menulis (hehe). Saya menulis buku harian sejak kelas 4 SD sampai masa kuliah. Maklum saya dibesarkan di jaman manual. Kalau sekarang, anak saya sudah menulis blog sejak SD.

Menulis pakai tangan (manua)l merupakan hal yang menyenangkan buat saya sampai sekarang pun. Kebetulan tulisan tangan saya memang bagus.

Cara saya menulis buku harian tidak sebagai catatan kejadian tiap hari, tapi sebagai sebuah cerita yang dikembangkan dari kejadian yang saya alami. Ini butuh imajinasi. Jadi, menulis buku harian itu semacam latihan buat menulis.

Buku harian lapangan pun sebaiknya ditulis dengan cara mengembangkan cerita. Cerita bertemu dengan Ibu Aminah, pedagang bakul di Pasar Klewer yang sekarang jadi anggota BPD dan bahkan mau nyalon di Pilkades. Cerita harian pun bisa mencatatkan kilas balik (flash back) bagaimana awal pertemuan ‘aku” dengan Ibu Aminah di awal pendampingan, saat perempuan itu masih malu-malu kalau bicara dalam kelompok dampingan.

Sebuah catatan harian memang menuliskan kejadian nyata yang dicirikan dengan waktu (jam, tanggal, bulan dan tahun) kejadian. Saya suka menempelkan foto yang diambil pada waktu kejadian tersebut. Atau meninggalkan halaman kosong untuk menempelkan foto yang akan saya cari kemudian sesuai dengan peristiwa dan waktu kejadian.

Walau begitu, sebuah buku catatan harian yang sudah penuh terisi, untuk menjadi cerita yang dapat dibaca orang lain, perlu diolah dan dituliskan kembali.

***

Bagaimana menuliskan cerita dari lapangan yang menarik untuk dibaca orang lain dan bermanfaat sesuatu pula?

Banyak sekali produk publikasi lembaga saya tentang teknologi hasil pendampingan program teman-teman LSM yang ditulis oleh para fasilitator lapangan. Memang, bisa saja fasilitator punya kecenderungan hanya menuliskan hal-hal teknis dari lapangan. Misalnya menuliskan kejadian dan keadaan dari sebuah kebun yang sedang dikembangkan, mulai dari awal sampai akhirnya menjadi kebun seperti yang direncanakan.

Menulis dan mengembangkan cerita yang disebut “human interest” seringkali tak terbayangkan oleh para fasilitator masyarakat yang bidangnya teknis. Tapi bisa saja didorong dan dianjurkan.

Saya mengenal sebuah LSM yang mendampingi kelompok usaha kecil perempuan memiliki tradisi ini. Setiap petugas lapangannya menuliskan catatan lapangan yang secara berkala dibaca dan dibahas bersama. Kemudian dipandu arah penulisan selanjutnya.

Pada akhirnya, lembaga itu menerbitkan buku yang berisi bunga rampai cerita lapangan yang ditulis oleh petugas lapangannya. Tema dan sudut pandang ceritanya sesuai dengan pilihan masing-masing.  Tapi karakter tulisannya lebih ke cerita “human interest”. Inspiratif sekali.

***

Lembaga bisa menerbitkan buku-buku tentang teknologi pertanian, teknologi air bersih, pengembangan kesehatan primer, dan sebagainya, berdasarkan pengalaman lapangannya dalam sebuah kondisi dan tantangan tertentu.  Referensi semacam itu perlu untuk dibagi kepada lembaga dan program lain sejenis.

Lembaga juga bisa mencoba menerbitkan buku tentang aspek-aspek non-teknis dari pendampingan program yang bisa membuka cakrawala pikir yang lebih luas. Bercerita tentang sosok petani bukan dalam skala kebun tapi juga komunitasnya, bahkan lebih jauh kebijakan pemerintah dan kondisi politik lokal maupun nasional yang mempengaruhinya.

Berhubung yang menulis adalah para fasilitator masyarakat, buku bisa berupa bunga rampai tulisan dengan pilihan tema dan level analisis yang berbeda.

Tentang sebuah desa, kemiskinan, dan kehidupan para perempuannya.

Tentang si A, perempuan yang mencari nafkah dan menjadi tulang punggung keluarga.

Tentang manisnya buah yang dipetik fasilitator dari hasil pendampingan, setelah sebuah proses yang sulit karena konflik dengan masyarakat dan para “bapak” yang merasa terganggu dengan perempuan berorganisasi dan berkumpul-kumpul dalam program. Apalagi perempuan kemudian kepengen nyalon BPD.

Tentang Pemilu pertama pasca reformasi di Desa dampingan.

***

Beberapa tahun terakhir, berkembang trend di kalangan program pembangunan untuk melakukan evaluasi dengan cara penulisan populer. Beberapa istilah yang muncul dalam evaluasi jenis ini adalah studi  “good practices” atau “best practices” atau “success story”. Apa saja wilayah “good practices” itu dan standar baiknya, dapat dirumuskan oleh lembaga program bersama para fasilitatornya, antara lain adanya tokoh pembaharu “champion actors” yang berkembang karena intervensi program atau keberadaaanya mendukung keberhasilan program intervensi lembaga.

Cerita human interest ini adalah cerita tentang atau dari pandangan orang atau sejumlah orang yang memperoleh manfaat dan atau terkena dampak program.  Ini dikembangkan dengan cara wawancara semi terstruktur kepada orang-orang tersebut. Teknik penulisan populer digunakan untuk menuliskan cerita-cerita human interest dari lapangan.

Penulisan praktek baik atau cerita sukses dikembangkan dengan menyusun berbagai topik tulisan yang terkait tujuan intervensi program dan merumuskan indikator baik atau suksesnya apa. Karakter tulisan success story adalah pembelajaran (lesson learned) mengenai suatu komponen dari program intervensi kita. Penulisan dikembangkan dengan cara mewawancari berbagai pihak mengenai topik-topik tersebut. Teknik penulisannya pun berupa tulisan populer. Praktik baik untuk “champion actors” dapat disusun berupa “profil” aktor tersebut (misalnya profil seorang petani inovatif), bisa juga berupa profil keluarga dan komunitas yang dianggap gambaran keberhasilan.

Cerita human interest dan success story kelihatannya sama saja dalam hasil tulisannya.  Keduanya dikembangkan untuk melengkapi evaluasi yang lebih bersifat data keras, supaya lebih enak dibaca dan “bersuara”, karena ada pernyataan (testimoni) dari orang dan cerita yang lebih menghidupkan gambaran proses dan hasil program daripada sekedar tabel data.

Kalau saja lembaga mengembangkan tradisi menulis catatan lapangan, maka evaluasi program pun akan menjadi lebih mudah untuk mengembangkan penulisan jenis ini.

Subyektivitas, “narsisme” (memuji-muji diri), dan istilah jaman sekarang sih “lebay-isme” (berlebih-lebihan) tentunya menjadi bahaya dari cara penulisan seperti ini.

***

Saya menemukan modul serial pelatihan Monitoring dan Evaluasi di web LSM Internasional berikut: www.crs.org  

Modul pertama sampai tujuh kurang cocok untuk LSM lokal karena lebih dikembangkan untuk LSM internasional dalam menggunakan jasa konsultan dan merancang program monitoring dan evaluasi (ME) programnya. Tapi modul ke delapan dan sembilan menarik untuk dijadikan referensi karena berisikan teknik penulisan human interest dan cerita keberhasilan (success story) dari lapangan untuk kebutuhan ME program.

Langkah-langkah dan contoh penulisan human interest dan cerita sukses untuk penulisan monitoring-evaluasi, dapat dilihat di sini:

8-ME module_humaninterest

9-ME module_success stories

***

Salah satu jenis materi lokakarya dan pelatihan yang pernah dikembangkan lembaga saya adalah pelatihan penulisan dokumentasi program.  Kami kesulitan untuk menemukan judul pelatihan yang cocok karena ternyata ragam tulisan yang ingin dibuat peserta sangat banyak, ada jenis tulisan “jurnalistik” seperti artikel, feature, dan berita kegiatan untuk media publikasi lembaga. Ada jenis tulisan dokumentasi program dari hasil evaluasi yang ingin disusun secara populer. Ada juga penulisan materi pendampingan dan pelatihan yang cenderung menjadi modul dan panduan fasilitator. Pelatihan penulisan ini harus disusun menjadi beberapa jenis pelatihan sesuai dengan kelompok atau jenis (genre) tulisan.

Teman saya yang berlatar belakang jurnalistik, mengembangkan materi teknik penulisan populer seperti artikel untuk buletin atau majalah lembaga, artikel web atau blog, penulisan buku yang merupakan kumpulan cerita dari lapangan. Pelatihan jenis ini disebut lokakarya dan pelatihan, karena setiap peserta langsung bekerja dengan proyek penulisannya masing-masing, sedangkan dari aspek pelatihannya diberikan materi teknik dan tips pengembangan tulisan (mulai dari memahami karakter setiap jenis tulisan, mengembangkan brief tulisan, outline tulisan, dan menulis sesuai dengan karakter dan khalayak sasaran yang dimaksud).

Lokalatih semacam itu sebaiknya diselenggarakan oleh lembaga sendiri untuk para fasilitator atau petugas lapangannya. Bisa juga dengan melibatkan fasilitator atau CO lokal. Ini juga merupakan bentuk penghargaan terhadap kerja fasilitator dengan menjadikan penulisan pengalaman lapangan dan pemikiran mereka sebagai agenda penting lembaga.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s