Metode Ziel Orienterte Project Planing (ZOPP)

Standar

Nah, ketemu…. File materi tentang Metode ZOPP yang saya punya dari GTZ Jerman.Saking jadulnya materi ini masih berbentuk teks untuk diprint dan dicopy ke atas Overhead Transparansi (OHT). Saya juga punya hardcopy modul pelatihannya, tapi sudah hilang dipinjam teman….

Silakan unduh materi berupa kumpulan OHT berikut ini: Metode ZOPP (GTZ Jerman)

OHT merupakan trend media presentasi di tahun 1990-an ke belakang dengan menggunakan alat tayang yang disebut Overhead Projector (OHP). Saya masih ingat pada masa itu kalau menjadi fasilitator/pelatih, pasti membawa bekal OHT yang sudah siap dengan materi paparan di dalamnya dan juga membawa satu kotak OHT kosong dengan satu set bolpoint OHT berbagai warna yang akan diisi materi paparan sesuai kebutuhan proses fasilitasi.

Waaah, era OHT dan OHP sudah berlalu. Kedua benda ini ibarat Dinosaurus yang sudah punah dimakan jaman…. digantikan oleh era Power Point Transparansi (PPT) dan LCD Projector….

***
MENGENAL METODE ZOPP

Metode ZOPP merupakan salah satu metode berbasis penggunaan metaplan yang saya kenal sejak tahun 1990-an dari GTZ Jerman.

Tulisan tentang Metaplan dapat dilihat di sini.

Jadi, sampai tulisan ini, saya telah memperkenalkan tiga (3) metode berbasis metaplan, yaitu:

  • Metode Future Search Conference (FSC) atau diterjemahkan dalam tulisan menjadi: Lokakarya Menggagas Masa Depan.
  • Metode Visualisation in Participatory Programmes (VIPP ) yang dapat dibaca di sini.
  • Metode Ziel Orienterte Project Planing (ZOPP) atau Bahasa Inggrisnya Objective Oriented Project Planning (OOPP) atau Metode Perencanaan Proyek Berorientasi Tujuan yang dipaparkan dalam tulisan ini.

Metode ZOPP dikembangkan oleh GTZ Jerman, sebuah organisasi yang banyak membantu Negara berkembang melalui program pembangunan dengan dana dari Pemerintah Jerman. Metode ZOPP memang secara sengaja dikembangkan untuk menjadi metodologi program/proyek bantuan pemerintah Jerman di berbagai Negara mitra, diujicobakan sejak tahun 1975-an dan kemudian pada tahun 1980-an disusun sebagai metode ZOPP.

Metaplan, VIPP dan ZOPP dikembangkan orang Jerman, sedangkan FSC dikembangkan di Amerika tetapi berbasis metode metaplannya orang Jerman juga.

Meskipun teman saya bilang orang Jerman itu senang menggunakan metode yang ‘bodo proof’ (kebal sama orang yang bodo saking rinci dan ketatnya prosedur dan teknik mengerjakannya), tapi saya tetap senang dengan ketelitian dan ketelatenan orang Jerman yang membuat sebuah metode begitu sistematis, rinci dan rapi…. Semua tahap atau langkah akan langsung menghasilkan dokumentasi berupa visualisasi berbasis kartu-kartu metaplan…. Ringkas dan padat informasi!

Kita tinggal mengembangkan narasinya untuk menjelaskan proses pembuatannya serta penjelasan dari hasil-hasil visualisasi tersebut…. Selain itu, metode ZOPP memang dibuat sederhana buat ‘kita-kita’ yang tidak memiliki latar belakang pendidikan perencanaan….

Orang perencanaan (atau ilmu perencanaan) itu kan untuk orang ‘pinter-pinter’ (multidisiplin) yang kelihatannya sulit apalagi kalau memformulakan segala sesuatunya dengan rumus supaya akurat dan terukur…. Kalau metode ZOPP tidak begitu karena filosofinya partisipatif sehingga dalam setiap tahap dan langkah yang penting adalah proses dan adanya penetapan kesepakatan dari pemangku kepentingan yang terlibat dalam forum perencanaan…. Metode ini dapat melibatkan peserta yang awam tentang metodologi perencanaan yang kalau dikerjakan oleh konsultan atau pakar menjadi sangat akademik atau teknokratis….

Asalkan istilah-istilahnya dijadikan bahasa lokal, metode ini pun dapat diterapkan oleh organisasi di tingkat masyarakat….

Pada materi OHT di atas, metode ZOPP dilaksanakan sampai penyusunan Matriks Perencanaan Proyek (MPP) berbentuk tabel yang merupakan kerangka logis program dalam jangka waktu tertentu (biasanya 3 tahun atau 5 tahun). Kalau dalam prakteknya, table MPP kemudian akandijabarkan menjadi Rencana Kerja Operasional (RKO ) yaitu tabel kegiatan yang akan dilaksanakan per tahun. Jadi, kalau MPP-nya 3 tahun maka akan disusun 3 buah RKO, kalau 5 tahun maka akan disusun 5 buah RKO.

Secara garis besar, tahap-tahap perencanaan dengan metode ZOPP adalah sebagai berikut:
1. ANALISIS KEADAAN
• Analisis Permasalahan: Identifikasi Masalah, Analisis Pohon Masalah
• Analisis Tujuan: Transformasi Pohon Masalah menjadi Pohon Tujuan
• Analisis Alternatif (Kegiatan Solusi)
• Analisis Peran
2. PERANCANGAN PROYEK
• Penyusunan Matriks Perencanaan Proyek (MPP)
• Penyusunan Rencana Kerja Operasional (RKO)
• Penyusunan Kalender Kegiatan

***

CIRI METODE ZOPP

Salah satu ciri metode ZOPP yang menarik adalah diterapkannya dalam sebuah forum perencanaan partisipatif, jadi langkah-langkah di atas tidak dilakukan oleh sebuah tim kecil di belakang meja, melainkan dalam sebuah forum dengan dipersiapkan dan dikelola oleh sebuah tim fasilitator. Peran tim pemandu atau tim fasilitator adalah membantu peserta untuk bisa melaksanakan setiap tahap dan menyepakati hasil dari setiap tahap melalui proses diskusi.

Siapa peserta forum perencanaan ini? Bila perencanaan ini dilakukan oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maka pesertanya adalah seluruh jajaran personil, mulai dari pimpinan/direktur sampai ke fasilitator masyarakat (Petugas Lapangan), bahkan juga fasilitator lokal atau kader masyarakat. Kalau pengalaman saya di LSM saya, sejumlah lembaga mitra kunci bahkan dilibatkan dalam forum perencanaan ini.Suasana diskusi selalu hangat, setara dan seringkali cukup sengit.

Awalnya mitra-mitra terkejut bahwa mereka boleh hadir dalam sebuah forum internal LSM yang secara mendalam dan terbuka membahas berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi lembaga…. Perlu diingat suasana pada 1990-an sampai 2000-an, masih banyak LSM yang sangat paternalistik dan tidak kalah sentralistiknya dengan rejim Orde Baru (hahaha)…. Namun forum partisipatif ini kemudian justru ‘ditiru’ oleh LSM-LSM lain karena keterbukaan semacam ini merupakan bentuk akuntabilitas dan juga berarti menunjukkan kesiapan lembaga untuk selalu memperbaiki organisasi dan programnya sehingga justru akan meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan banyak pihak kapada lembaga kita….

Kalau Metode ZOPP diaplikasikan sebagai proses perencanaan kolaboratif di sebuah jaringan atau forum multipihak, tentunya pesertanya adalah berbagai lembaga yang menjadi partisipant jaringan tersebut dalam menyusun program jaringan….. Proses partisipatif seperti ini akan sangat membantu berkembangnya dukungan dan komitmen antar lembaga untuk menjalankan program bersama ini….

Seingat saya, untuk menjadi fasilitator metode ZOPP itu harus bersertifikat…. Namun kenyataannya, metode ini menyebar luas begitu saja di Indonesia meskipun tidak diberi label ZOPP…. Apalagi Metode ZOPPnya juga sudah dimodifikasi dan ‘dirakit’ ulang dengan mencampurkannya menggunakan berbagai metode lain sehingga tidak lagi Metode ZOPP yang baku….

***

TEKNIK PENGGUNAAN METAPLAN DALAM METODE ZOPP

Setiap tahap-tahap proses perencanaan di atas akan langsung didokumentasikan dengan menggunakan bantuan metaplan. Pada saat mengidentifikasi masalah, semua peserta dapat menuliskan masalahnya di kartu-kartu metaplan sebanyak mungkin yang dapat diingatnya dan kemudian ditempelkan di dinding/papan tulis. Pemandu kemudian akan mengajak peserta menyepakati seluruh masalah tersebut dan mendiskusikan keterangannya.Visualisasi pengumpulan masalah terserah kesepakatan dan kreativitas bersama.Bisa dikelompokkan ber dasar tema. Bisa disusun menjadi bentuk visual yang kreatif, menarik, dan informatif.

Sumber: RD.

Sumber: RD.

Sumber: RD.

Sumber: RD.

Kartu-kartu masalah di atas kemudian dijadikan bahan untuk membuat “Pohon Masalah” yang disusun dari kartu-kartu masalah.Karena itu, penting dalam proses ini untuk menyepakati teknik seleksi masalah utama yang akan dikaji lebih lanjut dengan visualisasi “Pohon Masalah” apabila kartu masalah yang terkumpul sangat banyak.Kita bisa membuat “Pohon Masalah” berukuran raksasa bila kartu-kartu masalah yang digunakan sangat banyak. Bisa juga membuat “Pohon Masalah” berdasarkan tema.

Visualisasi “Pohon Masalah” itu kemudian dibuat “saudara kembarnya” yaitu “Pohon Tujuan” yang merupakan perubahan redaksi setiap kalimat negatif di dalam kartu masalah menjadi kalimat positif berupa tujuan yang merupakan kebalikan dari masing-masing kalimat masalah tersebut.

Sebelum MPP dibuat dalam bentuk tabel di dalam file komputer, kita dapat menyusunnya dengan menggunakan kartu-kartu metaplan sesuai dengan komponen MPP. Penggunaan kartu metaplan dalam penyusunan MPP ini selain melibatkan semua orang, juga memudahkan dalam melakukan koreksi secara bersama.

Tabel MPP

Apa yang diperlukan untuk melakukan tahap-tahap metode ZOPP di atas? Kita membutuhkan tim fasilitator yang sabaaaar sekaligus dinding yang cukup luaassss untuk membuat setiap visualisasi…. Karena itu, tim fasilitator ZOPP sejak persiapan sudah mensyaratkan pemilihan ruangan yang mendukung penempelan poster-poster metaplan yang banyak….

Visualisasi yang dibuat dengan menyusun kartu-kartu metaplan di atas kertas flipchart/plano. Berhubung visualisasinya besar-besar, kertas flipchart/planonya pun harus disambung-sambung agar bisa menjadi media tempel yang dapat menampung visualisasi tersebut…..

Berdasarkan pengalaman, forum perencanaan partisipatif seperti ini akan dilakukan selama 3-5 hari dengan keterlibatan seluruh personil lembaga sehingga kantor biasanya juga tutup dulu dan kegiatan dilakukan di luar kota…. sambil refreshing….

***

PENERAPAN METODE ZOPP DI INDONESIA

Metode ZOPP sangat populer di Indonesia karena berbagai lembaga donor dan LSM internasional juga menerapkannya dalam berbagai program bantuan di Indonesia terutama dengan kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat.Sama seperti Metode Participatory Rural Appraisal (PRA) yang sangat populer di Indonesia karena hampir semua lembaga donor menjadikannya syarat metodologi yang dipergunakan dalam proposal kerjasama oleh kalangan LSM. Metode ZOPP ini tentu saja mudah diterima kalangan LSM yang memang menyukai proses-proses partisipatif dan kolaboratif….

Contoh penerapan Metode ZOPP yang sudah diadaptasi/dimodifikasi oleh kalangan LSM, dapat dilihat pada tulisan berikut: Panduan Fasilitasi Renstra.

Contoh penerapan Metode ZOPP yang sudah diadaptasi/dimodifikasi olehjaringan/forum multipihak, dapat diunduh di sini: PANDUAN perencanaan kawasan (KPMNT). Pada tulisan, ini sudah dikembangkan teknik dan alat bantu dalam merumuskan visi, misi, isu strategis, strategi program, format MPP dan RKO yang akan diisi dalam kelompok, kemudian disepakati dalam pleno sehingga keseluruhan rumusan benar-benar berasal dari pemikiran bersama, bukan oleh satu-dua orang saja.

GTZ Jerman tidaklah bekerja dalam jangka waktu pendek untuk bisa menularkan proses dan mekanisme perencanaan partisipatif ini ke Pemerintah Indonesia. Selain itu, dukungan dari semua donor dan lembaga internasional lain yang bekerja di Indonesia juga turut berperan dalam menyebarluaskannya.Saya ingat, lembaga internasional FADO (sekarang bernama VECO) di Bali sangat intensif menerapkan Metode ZOPP dikombinasikan dengan Metode PRA (disebut juga ZOPP Marries PRA!).

Baik ZOPP maupun PRA kemudian diterapkan dalam skala nasional dalam mekanisme dan proses perencanaan desa yang disebut musyawarah pembangunan tingkat dusun (musbangdus) dan musyawarah pembangunan tingkat desa (musbangdes) yang berlaku di era Orde Baru. Modul perencanaan (ZOPP-PRA) yang dikembangkan Ditjen PMD Depdagri atas dukungan GTZ Jerman saat itu disebut Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD) diterapkan di seluruh Indonesia. Setelah reformasi dan otonomi, kemudian berlaku yang disebut musyawarah dusun (musdus) dan musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrenbangdes) berdasar Permendagri No.66 Tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa. Permendagri ini memuat proses perencanaan desa yang sama saja dengan P3MD.Saya masih punya soft file modul P3MD ini karena diundang dalam beberapa lokakarya penyusunannya. Waktu itu, memasukkan proses partisipatif bagaikan mengundang hantu yang pastinya banyak pihak tidak sudi menerima….. Lokakarya membahas dan merevisi draft modul ini menjadi sangat sengit sampai gebrak-gebrak meja segala tuh orang Jerman yang satu…. Saya kena semprot juga karena kebagian memfasilitasi sesi yang hasilnya membuat dia tidak puas…. Hahaha. Bikin modul sampai segitunya….

Silakan klik ini: Participtory Rural Appraisal di Permendagri 66/2007.

Panduan fasilitasi musrenbang desa yang merupakan operasionalisas Permendagri No.66 Tahun 2007 tersebut dikembangkan antara lain oleh Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat(FPPM) merupakan metode perencanaan yang mengadopsi Metode ZOPP dengan Metode PRA. Silakan unduh di web FPPM berikut ini:http://www.desentralisasi.net

Kalau webnya sudah mati, silakan unduh di sini: Paket Panduan Fasilitasi Musrenbang.

***

Penggunaan metode ZOPP di Indonesia ini sudah berlangsung puluhan tahun di kalangan lembaga program pembangunan dan pengembangan masyarakat di Indonesia. Dan masih berlangsung sampai sekarang di seluruh Indonesia dengan berlakunya perencanaan desa yang mengadopsi Metode ZOPP dikombinasikan dengan Metode PRA.

Banyak sekali yang menggunakan metodologi dalam Permendagri No.66/2007 tapi tidak mengenal metode ZOPP dan PRA yang menjadi sumber asalnya. Perjalanan metodologi ini mulai dari diperkenalkan oleh GTZ dan dikembangkan di Indonesia di masa yang masih tabu dengan proses partisipatif sampai diadopsi ke dalam regulasi perencanaan masyarakat di masa sekarang ini yang sudah terbiasa dengan proses partisipasi, itu merupakan perjalanan puluhan tahun….

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s